Rabu, 25 November 2015

Ini hanyalah aku, dia dan dunia ini.

“Apa aku itu normal?”
Kadang-kadang pemikiran itu tiba-tiba muncul di pikiranku saat aku melihat sesuatu dengan mataku ini. Aku melihat orang marah karena ada sesuatu yang kesal baginya, kadang-kadang aku melihat orang sedih karena hartanya hilang.
Aku melihat mukaku ini di dinding samping dimana terdapat kaca menempel di dinding tersebut. Aku melihat diriku ini, mukaku ini juga, dan juga perilakuku yang sedang berada di depan laptopku itu...
Tidak ada hal yang aku bisa komentari tentang hal itu semua. Normal, bagiku semuanya tidak ada masalah sama sekali.
Tapi, tidak tahu kenapa, terkadang aku dimarahi orangtuaku dengan tatapan mukaku yang begini. Tidak itu aku bohong, sebenarnya aku tidak dimarahi sekali oleh orangtuaku kok.
Toh, pada akhirnya tidak ada hal yang harus dikatakan atau dibilang di keluarga ini kok. Ada ayahku, ada ibuku, ada kakakku juga, tetap saja semuanya begitu saja. Tidak ada pembicaraan hanya fokus pada barang yang akan memberinya kesenangan daripada pembicaraan tidak ada artinya.
Memang begitulah dunia bekerja kali ya? Mana kutahu. Aku bukan dunia.
Hanya untuk informasi kalian saja, sekarang ini aku sedang bermain laptop di kamar. Kamar biasa saja yang cuman ada kasur, meja, lemari dan juga cermin. Aku tidak harus memberitahu kalian dimana letak merekakan? Tentu saja salah satu dari mereka itu diletakkan di tengah-tengah ruangan. Tidak enak dipandang.
Tidak banyak hal yang aku lakukan di depan laptopku ini. Mengunjungi sebuah website, bermain game, menonton di yo*tube, dan ya hal-hal yang hampir kebanyakan membutuhkan internet untuk mengaksesnya. 
Yaps, begitulah. Kebanyakan hidupku, ah tidak itu terlalu lebai. Kebanyakan waktuku ini aku gunakan untuk bermain laptop tersebut. Untungnya sekarang itu libur akhir semester, jadi aku tidak perlu lagi khawatir tentang masalah Pr, pelajaran ataupun untuk melihat buku. Tapi, bukan berarti aku enggak suka belajar kok.
Lalu tidak lama kemudian aku beranjak dari tempat dudukku ini. Pada akhirnya tidak ada orang yang bisa satu hari penuh ini bertahan di kursi. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan diam, salah satunya adalah ke WC. Buang air sembarangan adalah hal yang buruk, karena sudah kotor, bau lagi.


Aku setelah itu menutup pintu WC tersebut. Aku bisa mendengar suara kucuran air dari dalam dan mengguyur membersihkan bekas buang air kecil tersebut. Kemudian, aku kembali ke kamarku, mengurus kembali urusan yang belum terselesaikan (dengan laptop).
“Jadi, mau sampai kapan kamu bermain laptop, Silt?” tanya seorang perempuan itu kepadaku yang sedang berjalan ini. Dia sedang berdiri menelentangkan badannya ke dinding yang berada di belakangnya, dengan muka setengah terbuka itu kepadaku.
Perempuan itu tidak lain adalah Sintha. Dia adalah seorang perempuan. Berambut panjang bewarna putih panjang sampai ke punggung, tidak lurus melainkan melengkung  seperti sabit. Rambut di mukanya tapi tidak sampai ke mata hanya saja arahnya tetap saja seperti sabit dan simetris yang daerah kiri melengkung ke kanan yang daerah kanan melengkung ke kiri. Dia memakai gaun yang membuat selangkangan dia terlihat, dan juga gaunnya itu menutupi dirinya sampai ke lutut.
“Tidak ada batas waktukan aku harus bermain berapa lama? Lagipula sedang apa kamu terlentang seperti itu?”
“Silt. Disini itu adalah ruang keluarga. Dan pasti kalau berbicara tentang ruang keluarga, selalu ada televisi di dalamnya. Jadi, ya aku sekarang menonton tv lah. Memangnya aku ngapain lagi?” aku melihat televisi yang berada di depanku ini sedang menayangkan tayangan yang aku tidak peduli sama sekali tentang hal itu.
Tapi desain rumah ini benar-benar unik ya. Untuk menuju kamarku saja aku harus melewati ruang keluarga dulu agar aku bisa ke sana. Eh? Kayaknya semua rumah juga kayak gitu lagi ya?
“Tunggu, kalau begitu kenapa kamu enggak duduk aja Sin? Buat apa ada kursi di depan tv. Jika pada akhirnya malah berdiri enggak jelas disana? Kalau kamu dudukkan aku tahu kalau kamu lagi nonton.”
“Yaampun Silt ... itulah kenapa, kalau kamu hanya memakai pemikiran biasa itu kamu tidak akan menjadi jenius Silt.”
“Dengar ya Silt. Ingat perkataanku baik-baik dari sekarang.”
“Ketika ada televisi menyala dan ada orang ada di sekitarnya. Berarti orang itu sudah pasti menonton televisi!!!!”
Brak! Aku menutup pintu kamarku dan aku kembali lagi ke tempatku semula. Ah ... padahal hanya beberapa menit saja, tapi rasanya itu. Tidak bisa diekspresikan.
Ya, tanpa banyak bicara lagi aku terhisap kembali kepada laptop tersebut. Kira-kira untuk sekarang ini apa yang harus aku lakukan ya?
Tak! Tak! Tak! Klik! Klik! Klik!
“Wah, akhirnya ada update untuk cerita ini? Sip! Sip! Simpan dulu.” “Oh, ada video terbaru dari channel ini. Mayan.” “Sial. Game ini. Kenapa susah banget sih ngalahinnya?” “Oh kalau itu kamu harusnya begini nih biar menang.”
Terkadang aku suka bergumam sendiri ketika aku berada di depan laptopku ini. Sebentar, kayaknya ada satu kalimat yang aku tidak bilang tadi.
“Kalau kamu maksud adalah kalimat terakhir. Itu memang aku kok yang bilang.” Sinthia tidak tahu kenapa berada di sampingku. Aku sempat terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Sinthia hanya tersenyum saja melihatku begini.
“... tapi tidak aku sangka Silth. Kamu dari dulu sampai sekarang masih suka bermain dengan laptop ya ... “ hihihi. Dia tertawa kecil melihatku disini.
“Kamu mengatakannya, seakan-akan kamu sudah tidak lama bertemu denganku ... “ Sinthia tidak membalas perkataanku. Dan aku kembali melanjutkan kembali terhadap laptopku ini.
“Tetapi, apa kamu tidak penasaran ... ?”
Tanganku berhenti.
“Tentang apa?”
“Tentang ... hm ... “ dia mengalihkan pandangannya dariku terus kembali lagi. “ Tentang penyebab kenapa sekarang banyak orang yang lebih suka berada di depan mesin daripada di depan manusia.”
“ ... topik itu menurutku menarik. Dan juga entah kenapa aku merasa terdapat unsur menyinggung dari kalimat itu. Tapi aku tidak begitu peduli.”
“Sayangnya Sinthia, kalau tentang itu aku sudah tahu jawabannya. Jadi hal itu sudahlah tidak menarik lagi bagiku.”
“ ... begitu. Lalu apa kamu akan memberitahukan jawabannya itu kepadaku?”
“Tidak.”
“Waw Silth. Sepuluh detik aja belum selesai itu. Apa sebegitu sukanya kamu sama laptop tersebut?”
“ ... tidak juga. Terkadang ada hal yang lebih baik tidak diketahui daripada diketahui. Dan ya ... sudahlah aku enggak tahu harus melanjutkan apa ... “ aku kembali menggerakan tanganku untuk bermain laptop. Sedangkan Sinthia hanya melihatku dengan tersenyum.
Hingga ... perutku berbunyi.
“Pada akhirnya hal lapar adalah hal yang tidak bisa disembunyikan ya.” Komen Sinthia dengan mata setengah terbuka.


Aku pernah membaca suatu kisah. Kisah tentang suatu legenda. Dimana perempuan ditemukan di dalam sebuah bambu. Perempuan itu akhirnya diadopsi oleh kedua orang tuanya dan dia hidup senang bersama mereka disana. Namun perempuan itu adalah orang bulan. Akhirnya dia dipulangkan kembali oleh orang-orang dari bulan, meskipun sebenarnya dia masih ingin berada di bumi tersebut.
Apakah perempuan itu sekarang masih berada di bulan?
“Tentu saja enggak. Namanya juga kisah. Pasti hal itu tidak nyata lah.”
“Tolong jangan hancurkan fantasiku oleh kenyataan yang menyedihkan.”
“Hahaha.” Dia tertawa, tapi setelah itu dia terdiam tersenyum.
“Lagipula Silt, kalau seandainya itu nyata ... pasti itu adalah hal yang bagus bukan?” entah kenapa pada saat dia mengatakan itu nada bicaranya agak berbeda dari biasanya. Dalam arah kesedihan kalau menurutku yang mendengar.
“Lagipula, aku kira aku akan makan makanan rumah. Tahunya malah makanan bungkusan di toko serba ada.” Sinthia menghadap ke kantong plastik yang aku bawa ini. Lalu muka dia menyeringai, seakan-akan berkata “Tahunya malah gini ... “
“Namanya juga Silt ya. Dari dulu sampai sekarang masih saja seperti ini ya!!” dia kemudian berjalan beberapa langkah dariku, kemudian dia membalikkan badannya. Menunggu aku yang tidak jauh berada di di dirinya.
“Huh.” Tidak banyak hal yang harus aku katakan terhadap hal ini. Semua ini adalah adegan normal yang selalu saja aku jalani setiap harinya.
Ya, seharusnya sih begitu ceritanya.
Sayangnya adegan normal yang biasa aku jalani itu berubah. Ketika sebuah truk besar berkecepatan tinggi itu datang dan menerjang dirinya. Tanpa dapat aku melakukan sesuatu untuk dia.
Aku tidak bisa menggerakan tubuhku dari tempat tersebut. Perkataanku tidak bisa aku keluarkan dari dalam mulutku. Kesal, sedih, takut, semua ekspresi itu tidak dapat menggambarkan ekspresiku sekarang.
Kosong. Kosong, sangat kosong. Tidak berekspresi, tidak berprasaan. Tidak ada hasrat. Itulah yang menggambarkanku sekarang.
“Silth ... “
Namun perempuan itu, perempuan yang tertabrak tadi itu. Perempuan yang bernama Sinthia itu berdiri di depanku. Senyumannya yang manis itu sekarang terdapat rasa kesedihan yang entah kenapa dapat aku rasakan tanpa dia berkata.
Aku tahu.
Aku mengerti apa yang terjadi di depanku ini. Kenapa dia dapat berada di sampingku saat dikamarku tanpa diketahui dan juga kenapa dia sekarang bisa berdiri ... , salah, melayang seperti ini.
Karena dia tidak lain adalah ilusiku. Hal yang tidak nyata, hal yang hanya bisa dilihat oleh aku sajalah.
“Silth ... “ Silia datang kepadaku. Dia mencoba untuk menyentuh kepalaku. Namun sayang tangannya yang halus itu hanya menembus kepalaku yang bagiku aku tidak dapat merasakan apa-apa.
Dan setelah itu aku mendengar mesin mobil. Saat aku mencari dimana sumber itu. Ternyata sumber itu berada di depanku.
Kemudian kesadaranku hilang.
Apakah cerita ini selesai? Tidak.
Justru cerita yang tidak menyenangkan ini baru saja dimulai. Karena pada akhirnya bukannya dunia begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar