Chapter 1.
Aku berpikir ...
Apa yang akan terjadi ketika aku mati? Apakah aku akan
mengalami siksaan kuburkah? Apakah akan ada yang menangis dengan kepergianku
ini? Ataukah dunia akan sama seperti sebelumnya?
Lalu, bagaimana dengan Sinthia?
Ketika aku membuka mataku, cahaya matahari bersinar dengan
silaunya. Membuatku tidak dapat membuka mataku dengan baik disini.
Sebentar, bukannya aku tadi ditabrak mobil?
Aku mengamati keadaan tubuhku langsung tanpa berpikir
panjang. Mata, kepala, badan, tangan dan juga kakiku ini, jangankan darah, luka
atau bahkan goresanpun tidak ada sama sekali di tubuh ini.
Apa-apaan ini? Aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku
terhadap apa yang terjadi di depanku ini. Karena kalaupun aku bilang kalau itu
mimpi, hal itu adalah tidak mungkin karena aku sampai sekarang masih
merasakannya. Merasakan, bagaimana rasanya tertabrak dan juga terjatuh karena
benda tersebut. Benar-benar tidak menyenangkan,
jika ditanya bagaimana rasanya.
Padahal dulu aku sering menertawakannya ketika ada adegan
itu dalam suatu cerita. Sekarang mungkin, aku tidak dapat tertawa karena hal
itu.
Aku lalu berdiri dan memandang kedepan. Padang rumput yang
luas terhempas. Pemandangan yang tidak pernah aku lihat berada di depan mataku
sekarang.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku sekarang? Keadaan tubuhku
saja sudah membuatku kaget, dan sekarang aku berada di tempat yang tidak
dikenal.
Tidak tahu kenapa, aku sudah tahu jawabannya tanpa ada
seorangpun yang menjelaskannya kepadaku. Namun, aku butuh lebih banyak bukti
lagi untuk memastikan apakah jawabanku benar atau tidak.
“Hah ... “ menghela napas, aku mulai pergi dari tempat ini.
Aku berjalan di padang rumput yang luas itu. Rumput hijau, rumput hijau pendek,
dan rumput hijau pendek muda sajalah yang dapat aku lihat. Untungnya masih ada satu atau dua pohon
berada di tempat ini.
Fiuh, untunglah. Kalau semuanya rumput, aku enggak tahu
kalau aku masih bisa bertahan di tempat ini dengan normal.
Sekitar satu jam aku berjalan di padang rumput ini, di
depanku sekarang sudah tidak lagi rumput. Melainkan awal dari sebuah hutan
lebat yang tampaknya belum dijelajah sama siapapun disini.
Kira-kira apa aku masuk ke hutan inikah? Atau aku lebih baik
berada di tempat yang disinari matahari ini?
Kalau menurutku sih lebih baik masuk ke hutan. Mencari
makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Namun, gimana ya ... selama satu jam
ini itu aku tidak pernah menemukan sesuatu selain diriku sendiri di tempat ini.
Rasanya itu ... seperti jawabanku ini ... semakin lama
semakin benar saja. Dan aku sangat ingin jawabanku itu tidak benar.
“Dunia itu memang penuh dengan pilihan ya.” Setelah berkata
itu aku bergerak dan aku memutuskan untuk masuk ke dalam rimba tersebut.
Rimba ini berbeda. Biasanya tadi itu aku menapakkan kakiku
ke rumput untuk melangkah, namun disini aku malah menginjak tanah sebagai
landasannya. Pohon-pohon raksaksa terpisah setiap 1 atau 2 meteran membuat
hampir sebagian cahayanya terhalang oleh daunnya yang berada di atas. Disini
juga terdapat tanaman-tanaman yang tinggi sekitar 1-2 meter tumbuh di sekitar pohon tersebut. Jarang terdapat
tanaman diantara pohon tersebut. Kalaupun ada, itu menggangguku yang sedang
bergerak disini.
Mungkin karena hal itulah yang membuat pemandangan disini
indah. Pemandangan alam yang natural dan indah ini, aku bisa merasakannya
langsung dan bukanlah dari gambar internet.
Tentu saja, aku tidak bermain ma-
BRAK!!!
Pemandangan yang berada di depanku ini hancur berantakan. Di
depanku sekarang kosong tidak ada apapun ... tidak, ada satu hal. Ada satu hal
yang berada di depan diriku ini. Satu hal yang aneh, belum pernah aku lihat,
dan yang paling penting ...
Dia punya niat untuk membunuhku.
“Graa ... “ dia melihatku dengan niat membunuhnya itu. Dia
memililiki bentuk tubuh sebesar beruang, tapi agak kurus dan lebih berotot
daripada beruang. Dia juga memiliki cakar putih yang tajam di tangan dan
kakinya, cakar yang tajam ternoda merah dengan salah satu tangannya merangkul
mayat yang aku juga tidak tahu dia itu apa. Kepalanya yang berbentuk seperti
serigala itupun tidak bisa aku sebut serigala, karena di kepalanya terdapat
tanduk yang membuat dia bukan seperti serigala yang aku tahu.
Setelah aku melihat ini, aku tahu. Aku mengerti. Ternyata
jawabanku ini benar.
Dunia ini bukanlah dunia yang aku dulu tempati. Bukanlah
dunia modern dimana mesin telah menjadi hal yang biasa di kehidupan
sehari-hari. Bukanlah juga tempat dimana perang dengan uang dan budaya lebih
sering daripada dengan senjata.
Melainkan disini adalah dunia paralel. Dunia dimana
pemikiran biasa yang aku punya ini tidak akan sama dengan apa yang berada di
mataku ini. Sihir, pedang, dan monster, sesuatu yang harusnya hanya ada di
cerita sekarang telah berada di depanku. Sambil berniat membunuhku disana.
“Hahaha ... “ sesaat sebelum keadaan di depanku ini hancur.
Aku sempat melihat ada sesuatu yang terbang kebelakangku. Pada saat aku
mengamati apa yang berada di belakangnya itu, ternyata itu adalah hewan seperti
rusa. Yang cuman ada kepalanya saja terdampar di tanah.
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” tubuhku langsung berlari
setelah monster itu mengaum di depanku ini.
Aku kabur. Aku kabur dari monster yang sekarang mengejarku
dengan penuh nafsu tersebut. Pohon-pohon aku lewati meskipun pada akhirnya
tetap saja terlihat sama bagiku semua pohon tersebut.
Monster itupun juga sepertinya tidak begitu mempedulikan
pohon tersebut. Karena baginya, pioritas utamanya tidak lain adalah untuk
mengincar mangsa yang sangat lezat dan
empuk yang sedang berlari dari kejarannya.
Mangsa itu tidak lain adalah aku.
Tidak butuh waktu lama. Sekitar
satu menit saja, dia sekarang sudah bisa berada di dekatku. Mendekatiku yang
lelah dan tidak berdaya ini, dan pada akhirnya salah satu dari pukulannya
mengenaiku dan akupun terbang tidak tahu ke arah mana.
Saat aku menyadari aku terpukul
itu ketika tubuhku itu mengenai pohon, lalu pohon itu hancur dan aku jatuh
terguling-guling.
Pada saat aku berhenti, aku bisa
merasakan betapa sakitnya pukulan itu di bagian badanku. Sampai aku tak dapat
menahan darah yang keluar dari mulutku ini. Penglihatankupun juga sempat tidak
jelas karena serangan itu tadi.
Aku mencoba.
Aku mencoba untuk lari dari
monster yang kuat tersebut. Tapi, bukannya bisa kabur, yang bisa aku lakukan
hanyalah menjadi mainannya dan menerima rasa sakit yang benar-benar tidak
menyenangkan ini.
Kenapa dia tidak langsung saja
memakanku? Apakah karena dia itu kuatkah? Apa karena dia kuat dia dengan
seenaknya melakukan inikah?
... semuanya sama saja.
Tidak hanya di dunia sana ataupun dunia sini.
Pada akhirnya beginilah dunia itu bekerja, yang kuat selalu memakan yang lemah.
Si Kuat selalu saja mengalahkan yang lemah. Si kuat, si kuat dan selalu saja si
kuat yang bisa melakukan semuanya di dunia tersebut.
Lalu apa yang bisa dilakukan si
lemah?
SI lemah hanya bisa sembunyi. Si
lemah hanya bisa ketakutan. Si lemah hanya bisa pasrah saja dengan apa yang
terjadi kepada dirinya tersebut.
Maksudku, jika seandainya hal itu
bisa berubah, seadainya saja hal itu GAMPANG diubah, tidak perlu lagi ada yang
namanya “si lemah” di dunia ini.
Brak!!!
Sekali lagi aku terbang dan
terjatuh ke dalam tanah. Aku tidak tahu berapa banyak luka yang berada di dalam
tubuhku ini. Tapi kupikir dengan rasa sakit di seluruh tubuh dan juga
kesadaranku yang hampir hilang ini, sudah jelas sekali kalau aku ini terluka
parah.
Monster berkepala serigala itu
sekarang melihatku. Dia diam dan hanya melihatku sekarang. Dengan mulut dan
giginya yang bertaring itu, aku bisa merasakan kalau dia sedang menertawakanku
yang tidak bisa apa-apa ini.
Bahkan-bahkan sampai sinipun ... aku kosong. Tidak marah,
tidak kesal, tidak senang, ataupun juga tidak bahagia. Kosong tanpa ada isi sama
sekali.
... sudah cukup. Aku sudah tidak ingin lagi hidup. Aku sudah
lelah, capek dan selesai terhadap semua ini. Aku ingin agar semua ini berakhir
secepatnya.
Toh, kalaupun aku ada
atau tidak ada, dunia akan sama saja seperti itu tanpa ada yang berubah.
Oleh karena itu, aku menutup mataku, dan dengan tenangnya,
aku menunggu kematianku di dalam kekosongan ini.
Dan dengan ini, semua berakhir.
“Apakah benar ini yang kamu inginkan?” entah kenapa suara
itu dapat terdengar kepadaku yang mau mati ini.
Iya, memangnya kenapa kalau berakhir seperti ini?
“Enggak apa-apa kok. Enggak apa-apa ... “
“Hanya saja kamu harus mengerti ... “
“Bahwa begitulah dunia itu bekerja. Yang menang hanyalah
yang kuat, yang banyaklah yang menang, dan yang statusnya tinggilah yang
dihormat dan dipuja. Itu adalah hal yag tanpa diberitahu atau dikatakanpun ,
kamu akan mengerti sendiri dan merasakannya ... “
“Rasanya sakitkan? Berapa di paling bawah itu. Tidak
menyenangkan ya? Tidak memiliki semua itu. Aku juga mengerti kok perasaan itu.”
“Tapi ... apa karena itu kamu menyerah. Kamu mengakhiri
hidupmu itu karena alasan ini?”
“Karena itu, karena itulah, aku berada didekatmu, dan selalu
bersamamu Silt ...“
BAK!!!! Saat itu pukulan yang harusnya mengarah ke kepalaku,
tidak tahu kenapa mengenai tepat di sampingku.
“Nah, ayo Silt. Mau sampai kapan
kamu disitu terus?”
“Ayo, Genggam tanganku. Kamu
pasti bisa mengalahkannya Silt.”
Aku menggenggam tangannya.
Meskipun aku tidak dapat menyentuhnya tapi entah kenapa aku masih bisa
menggenggamnya seperti aku menggenggam tangan orang normal.
Setelah itu ...
“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!” Aku memukul monster itu dengan kepalan
tangannku ini. Dan tentu saja monster itu tidak bergeming, lalu dia membalasnya
dengan tangan kanannya yang berotot itu kepadaku.
Aku memukul bagian tangan kanan monster itu, dia lalu
membantingnya ke bawah tanpa ada masalah. Lalu aku membalikkan badanku dan
menendangkan kaki kiriku ke bagian bawah tubuh serigala itu yang tentu saja
tidak ada yang berubah dari dirinya tersebut.
Tapi meskipun begitu aku tetap saja menyerang dia. Menyerang
dia, dan terus menyerang dia. Tanpa peduli apa yang terjadi ke dalam diriku
ini.
Meskipun aku tahu, bahwa semua hal itu sama sekali tidak
terjadi.
Serigala itu sama sekali tidak terluka. Sedangkan aku sudah
tidak berdaya dengan salah satu tanganku kebawah tidak dapat naik meskipun aku
menyuruhnya untuk naik.
“Jadi pada akhirnya inilah akhirnya ya?” aku akhirnya
mengucapkan hal-hal yang sering diucapkan karakter utama di akhir hayatnya.
Tapi sayang, aku itu bukanlah karakter utama. Jadi, mungkin
ini adalah akhirnya kali ya?
Jangan bercanda!
Memangnya kamu pikir, aku akan berhenti begitu saja hanya
karena ini?
Lalu aku kembali lagi menyerang dia dengan pukulanku
tersebut. Pertarungan ronde kedua kembali dimulai.
Sampai akhirnya ...
Serigala tersebut ... masih sehat sehat saja. Sedangkan aku
... jangan tanya lagi aku bagaimana. Tubuhku sudah penuh darah, dan ajaibnya
lagi aku masih bisa berdiri meskipun terdapat rasa sakit yang tidak tertahankan
ketika aku berdiri disana.
Aku sudah tidak tahu aku harus berkata apa di saat ini. Mungkin
serigala itu menganggapku lucu terhadap perilakuku ini. Aku tidak peduli. Dan
aku tidak peduli.
Akan aku tunjukan kepadanya, dengan kekosongan dan semangat
ini. Aku bisa memenangkan pertandingan yang dia anggap konyol ini.
Ada yang berubah dari perilaku serigala tersebut, beberapa
detik setelah aku berdiam diri disini. Tubuhnya bergetar-getar, mata dia
bergerak tidak tentu. Lalu dia mundur dengan ketakutan dari diriku.
BASSSSSSSSSS! Tubuh dia di bagian perut bagian atas mencrat
secara tiba-tiba. Meninggalkan aku yang berdarah ini dihujani darah kembali.
Lalu tubuh bagian bawah itu terjatuh dan darah keluar dari bagian yang hancur
itu.
“Silt! Silt!” tiba-tiba saja suara Sinthia terdengar dari
sampingku.
“Kamu lihat itu Silt! Lihat! Kamu berhasil loh mengalahkan
monster tersebut! Tidakkah kamu hebat Silt!?” Sinthia benar-benar kegirangan
sambil menunjukkan mayat serigala tersebut kepadaku.
Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Aku terjatuh dari
berdiriku dan aku tidak sadarkan diri.
Saat itu, tidak tahu kenapa terdapat satu hal yang terbangun
dari dalam diriku.
Dan tanpa semua orang sadari, satu hal ini... bisa mengubah
seluruh dunia yang berada di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar