Sabtu, 01 Oktober 2016

Real Nikki mulai 6.


Kayaknya sudah satu bulan aku enggak menulis ini lagi. Dan karena beberapa hal juga alasan tertentu akhirnya aku memutuskan untuk menulis lagi.
Hah...
Konsistensi
Kayaknya aku butuh banget kata yang berada di atas.
Maksudku aku sering banget membuat diary, cerita, yang pada akhirnya semuanya tidak selesai.
Walaupun ada satu cerita yang akhirnya selesai... tapi tetap saja. Hah...
Dan juga perkuliahan disini sudah mulai mau sibuk.
Aku melihat materi blok selanjutnya dan ternyata... banyak...
Ampuuuuuuuuuuuunnn
Akhir-akhir ini juga agak kecewa dengan anime re:zero yang sudah habis.
Padahal itu anime yang paling bagus secara realistis. Dimana disana mati itu benar-benar kerasa seramnya enggak kayak kebanyakan di cerita sekarang yang mati itu emang terasa kosong..
Emosi aku bangkit kembali.
Emotion has been resurrected.
Dan juga sekarang aku mengerti bagaimana rasanya krisis uang menjadi anak kosan.

Dimana sekarang aku melihat dompet ini penuh dengan warna abu, penuh bunga, angklung, dan juga pattimura.

Jumat, 30 September 2016

Real nikki mulai 5.

Sudah hampir satu minggu aku tidak menulis kembali.
Alasannya macam-macam. Bisa jadi karena aku malas menuliskannya. Atau memang enggak ada yang menarik yang aku tuliskan. Dan sebetulnya kedua jawaban itu adalah benar. Terutama jawaban yang awal.

Aku kemarin menghabiskan idul adhaku di rumah. Enggak ada yang berbeda sih sama yang disini. Bedanya mungkin disana aku bisa malas-malasan lebih banyak sedangkan disini rasa malas-malasanku berkurang karena tugas.

Soalnya kalau sama-sama ada laptop disananya. Ujung-ujungnya pasti bermain. As expected of otaku-san (me) wa...

Dan tanpa aku sadari lagi bazaar fakultasku tinggal satu hari lagi. Sedangan aku enggak tahu kelompokku ini persiapannya gimana-gimana...

Well, now its difficult situasion huh..

Belum lagi ada beberapa tugas di buku logbook yang harus dikerjakan... toh itu dikumpulinnya minggu depan jadi tidak mengkhawatirkan.

Tapi yah, tidak ada salahnya kalau aku kerjakan dari sekarang kan? Demi mendapatkan banyak istirahat di kemudian nantinya.

Sama...

Hah... kira-kira kapan ya aku mau serius belajar? Maksudku, aku sudah lama sekali berniat untuk mencicil pelajaran dari awal aku masuk. Namun nyatanya sampai sekarang aku masih belum melakukannya.

Cuman omongan dan motivasi aja, enggak ada pergerakannya. Memangnya aku ini karakter utama kali ya? Berprilaku seperti itu...

Belum lagi pr debat yang dikasih... dan aku mengerjakannya agak ngasal... kira-kira benar enggak ya...

Hari ini, kayaknya akan menjadi hari yang mengkhawatirkan ya...

Mudah-mudahan saja aku baik-baik saja... mungkin.

Good luck. Me.

...

Situasi rupanya bertambah parah dari sebelumnya.

Bazaar yang aku kira minggu depan ternyata hari esok...

Debat ternyata Tinggal beberapa hari sampai kompetisinya...

Lalu hari ini sebelum H-1 sorenya dan juga malamnya aku sibuk oleh urusan lain selain bazaar..
Intinya, aku berada di dalam keadaan tidak menguntungkan.

Belum lagi... aku enggak tahu kalau hal ini itu adalah kabar baik atau kabar buruk.

Mengetahui kalau pada akhirnya aku sendiri ini. Menyadari seberapa banyak aku berusaha untuk mempunyai banyak teman atau ramah kepada mereka...

Tetap saja hati ini terasa kosong kali ya... bagaimanapun juga.

Dulu, dulu aku pernah sekali mengalami hal ini. Pada saat smp, dimana pemikiranku berbeda dari yang lainnya.

Toh, sepertinya disinipun juga sama kali ya pada saat itu. Tapi mungkin kalau lebih diperjelas lagi... bisa dibilang

Semua orang tidak mengerti aku, atau juga bisa dibilang akulah yang tidak mengerti sama mereka semua.

Ya.. seperti itulah perasaannya.

Dan juga akibatnya kalau punya pemikiran itu... hm... bagaimana ya... kalau diibaratkan dengan skill kayak game rpg...

Skill :
+Self talking lvl 0 -> level up -> lvl 2.
+ Individualism lvl 2 -> level up -> lvl 5.
+ Ignorance lvl 0 -> level up -> lvl 3.
+ anger  lvl unknown -> level up -> lvl Deep abyss.
+ darkness in the heart lvl error -> level up -> lvl Cannot read the lvl.
+ Liar lvl unstoppable -> level up -> lvl cannot explainable.

Yah... seperti itu sih. Emang sih dua skill terakhir itu kelihatannya konyol. Tapi...  oh well memang itu kenyataannya sih.

Ataukah mungkin itu semua bohong karena aku liar?

Tidak ada yang tahu kebenaran itu...

Yang jelas... untuk hari ini... kayaknya akan menjadi hari yang lama ya...

Toh, tapi entah kenapa sekarang aku tidak sebegitu khawatirnya sendiri dibanding waktu dulu. Rasanya perasaan ini lebih baik...

Ya ampun... kira-kira sudah seberapa rusakkah diriku ini sebenarnya?

Hahahahaha.

Aku juga jadi enggak tahu apakah itu tertawa atau cuman perkata ha yang banyak saja.

Membingungkan ya...

Real Nikki mulai 4.


Sabtu minggu liburan kemarin aku tidak dapat kesempatanku untuk menikmati tidur yang nyenyak. Banyak urusan yang terjadi pada saat itu. Membuatku harus pulang pada saat malam dan ketiduran tanpa disadari.

Aku juga enggak keburu baca buku. Udah berapa lama ya aku ingin membaca buku tapi enggak sampai-sampai juga...

Sebagai gantinya, mungkin relationship aku antar temen semakin deket. Paling tidak, aku enggak akan sendirian di kelas nanti.

Juga hari keenam kuliah mulai jam tujuh. Benar-benar tidak disangka juga. Mungkin pemanasannya sudah selesai dan sekarang baru kuliah sebenarnya dimulai ya?

Hee...
...
Tidak banyak yang harus dikatakan di kuliah. Dan rasanya itu membosankan. Padahal waktu sma di kelas aku enggak pernah semengantuk ini. Apa gara-gara satu kelasnya itu ada seratus dua puluh orangkah, penyebab aku begitu?

Kayaknya bukan sih.

Terus pada sore harinya aku mencoba melakukan eksperimen. Menggunakan flexih*b untuk membuat agar program yang terproteksi dongle bisa dijalankan di beberapa laptop lain tanpa perlu mencolokkan donglenya.

Iya sih bener, kalau dikonekin ke flexi bakal bisa kebuka tanpa dongle. TAPI yang bisa terkoneksiin tetap saja cuman satu buah. Intinya cuman satu laptop saja yang bisa buka satu program itu meskipun menggunakan flexih*b yang berarti sama aja bohong.

Aku menghabiskan dua jam berhargaku hanya untuk itu.

Terus aku ketiduran saat jam delapan malam. Dan yah, aku sebenarnya inginnya tidurnya tengah malam sih.


Mulai besok aku akan mencoba untuk melakukannya.

Real nikki mulai 3.

Kemarin setelah merasa kayak subaru di re:zero ini, aku kembali menjadi normal. Dan kembali lagi kuliah di pagi hari.

Problemnya sampai sekarang selalu masalah aku berbicara di depan orang....

 Seriously, kayaknya memang aku punya masalah dalam komunikasi. Belum lagi katanya dokter itu harus bisa berkomunikasi dengan baik. Kalau aku begini, entar gimana nanti saat aku jadi dokter?
Mengkhawatirkan...

Dan yah film yang ditunjukan tadi membosankan... enggak sih... cuman ga tau kenapa aja tiba-tiba diri ini mengantuk...

Benar-benar perilaku yang tidak baik untuk kuliah nanti. Mudah-mudahan saja hal itu tidak terjadi lagi.

Oh ya, disana juga aku bertemu teman otaku yang agak lumayan otaku dari temanku sebelumnya.

 Ya... lumayanlah...  dibanding grup yang ada lima puluh orang cuman mutasi otaku kecil aja.

Tapi ya meskipun begitu... ada akhirnya otaku yang seleranya hampir sama dengan aku ada di lampung sana.

Comrade, apa kau baik-baik saja disana? I hope you will... maybe...

Tapi sampai ga bisa ngehubungi sampai 5 hari. Kira-kira ospek di lampu sana seberapa berat ya? Atau aku harus bilang “as expected of sumatra people” ? no offense everybody


Huh... well okay. Good luck then. Dua hari libur besok, kira-kira aku mau ngapain ya?

Real Nikki 2.5


Malamnya aku kembali ke kampus untuk mempersiapkan diri debat bahasa inggris antar fakultas. Alasanku kesana tidak lain adalah ingin mencoba membuka diri sama yang namanya organisasi-organisasi tertentu. Wajar saja pada saat SMA dan SMP dulu aku tidak pernah ikut yang namanya organisasi.

Dan juga debat dengan bahasa inggris ya? Bukannya itu terdengar menarik? Dengan kerennya mengutarakan pendapat di dalam diri ke satu sama lain dengan gagahnya tanpa pandang bulu.
Ya... itulah yang aku pikirkan sebelum dijelaskan debat oleh kakak tingkat disana.

Debatnya banyak aturannya. Speaker pertama itu harus inilah, speaker kedua harus begitulah. Temanya juga tema sekarang-sekarang ini, like seriously sudah berapa lama aku tidak buka tv disini sekarang? Kosanku ga ada tv dan aku enggak ingin ada tv.

Belum lagi aku sadar kalau aku masih punya trauma pada saat smp. Dimana akibatnya ketika aku berdiri dan ditonton banyak orang, aku jadi gugup gugup enggak jelas dan speechku hancur berantakan.

Huhuhu.... kenyataan yang menyedihkan.

Untuk critical strikenya ada temenku yang sudah lama debat. Dan langsung ditunjukan perbedaan sinis antara yang berpengalaman dan yang baru mencoba ini.

Membuatku enggak tahu harus, senang sedih marah atau bunuh diri makan terasi...

Pulangnya pun aku tidak begitu banyak berkomentar apa-apa tentang itu. Aku makan, dan aku tertidur pulas di kasur tanpa tahu kapan aku tidur.


Tau gitu mending apa ga usah ikut aja kali ya? Dikiranya sebentar taunya lamanya sampai tengah malam begini... belum lagi cucian belum dijemur... mau ga mau harus diundur deh jadi besok... hah...

Real Nikki mulai 2

Sudah empat hari aku mulai kuliah. Dan bisa dibilang pada saat-saat sekarang masih dibilang woles daripada yang sebelumnya.

Hanya saja... mungkin yang menjadi pikiranku sekarang adalah komunikasiku. Lebih tepatnya apa mereka mengerti apa yang aku ingin sampaikan kepada mereka?

Misalnya saja diskusi tadi. Walaupun tidak ada yang mempermasalahkan persentasiku saat diskusi tadi. Tapi tetap saja dari ekspresi mereka semua, mereka tidak mengerti apa yang aku persentasikan. Dan mereka tampaknya tidak ingin membuatku kecewa dan mereka berpura-pura mengerti.

Padahal aku lebih mengapresiasi kalau mereka bilang saja tidak mengerti daripada bohong seperti itu sih...

Lalu pada saat aku mencoba untuk mengobrol biasa dengan teman-temanku. Lalu bertanya kepada mereka apakah mereka mengerti apa yang aku katakan. Mengkagetkannya mereka mengerti berbeda dari persentasi tadi.

Kenapa ya? Apa komunikasikukah yang menjadi masalah? Ataukah ada faktor-faktor tertentu yang membuat persentasiku tadi tidak dimengerti orang?

Aku tidak mengerti.

Dan juga saat aku mengecek real nikky mulai 1,5 topiknya masih sama seperti sekarang ini tentang komunikasi...

Apakah perkataankukah yang menyebabkan kebingungan ini? Apa aku salah menggunakan kata sehingga mereka pusing?

...dan kayaknya memang lebih baik aku harus ke BK daripada menyesal nanti...


Karena pada akhirnya komunikasi itu adalah ilmu penting untuk kedokteran ini. Mungkin tugas tambahan untukku agar komunikasinya lebih ditingkatkan...

Real Nikki 1.5


Saat tengah malah hari pada mulai satu. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan teman-teman perkuliahan. Ya... coba dengan caraku sendiri agar bisa akrab dengan mereka.

Tapi pada akhirnya, kayaknya aku tidak bisa meruntuhkan dinding mereka dengan caraku ini. Jadi ya..., pada saat aku melihat temanku yang lain bisa mengobrol dengan enaknya satu sama lain sedangkan pada saat mereka mengobrolku rasanya canggung...

“Jadi, pada akhirnya, memang itu toh, alasanku punya jarang teman ini.” Toh aku enggak peduli lagi sih dengan itu.


Aku sadar kalau ternyata ada banyak hal yang bisa aku lakukan. Pura-pura jadi orang bodoh yang tidak tahu itupun juga termasuk kok. Lol.

Real Nikki mulai 1.

Aku udah enggak tahu berapa lama aku tidak mengupdate diary ini. Tapi mulai sekarang aku akan mengupdatenya kembali.
Singkat saja, sekarang aku sudah memulai kuliah di jurusan kedokteran. Sekarang sudah mulai belajar, walaupun materi yang sekarang diterima itu masih dalam kategori mudah atau belum ada materi kedokterannya.
Bisa dibilang pemanasan untuk kuliah di jurusan kedokteran ini.
Dan aku sebagai murid baru ini, harus beradaptasi, membuat teman baru, dan mulai hidup sendiri di kos ini. Padahal cuman beberapa hari saja, tapi aku kangen dirumah, soalnya di rumah itu aku enggak harus banyak gerak seperti di tempat ini.
Padahal ini baru awal dari kuliahan kedokteran lagi.
Belum lagi materinya tadi yang rasanya mengantuk dan membosankan itu.
Padahal ini baru awal kuliahan kedokteran seriously...
Dan yah tidak ada banyak yang dibicarakan hari ini. Aku entah kenapa sekarang bertemu banyak teman (kira-kira 10) yang otaku disana. Walaupun otakunya enggak otaku banget kayak aku.
Dan yah... terkadang seperti biasa rasa sendiri ini masih berada di dalam diri. Tapi, yasudahlah. Aku sudah terbiasa dengan itu.
Lagipula temanku yang berada di kedokteran lampu sana bagaimana ya nasibnya...
Untungnya di unsoe ini ospek universitasnya enggak ada drama, dan juga ospek fakultasnya cuman ngerjain tugas sampai hanya tidur satu jam...
AH... itu buruk juga ya?
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu saat itu kawan. Berjuanglah.
By the way, foto aku saat ospek fakultas

Neutral quotes mulai 2

"Tidak ada seorangpun yang mengetahui dan mengerti sepenuhnya tentang sesuatu.

Bukan karena mereka tidak bisa melakukannya.
Tetapi karena mereka tidak ingin untuk melakukannya."

Neutral

Neutral Quotes begin 2

"There is no one that know and understand everything about something.

Not because they cannot do that.
But because they dont want to do that."


Neutral

Neutral Quotes mulai 1

"Cara untuk menyembuhkan orang yang tidak bisa disembuhkan?

....Hanya mati yang bisa menyembuhkannya"

Neutral

Neutral Quotes begin 1

"The way to cure person that cannot be cured?

...Well its die that can only cure it."

Neutral

Sabtu, 26 Maret 2016

Marionet

Marionet.

Sang boneka terbangun dari mimpi.
Menyadari kenyataan ini.
Lalu menghadap ke depan diri.
Kalau memang ada yang salah disini.

Hidup tidak terkontrol diri.
Pasrah tanpa bisa bertanding.
Kalah tanpa dapat melawan hal ini.
Hanya kesal yang dapat dipikir.

Sang boneka telah tahu hal ini.
Tapi dia tak bisa berlari.
Karena mereka semua disini.
Telah terikat tanpa mereka sadari.

Hatta tanpa dunia sadari.
Boneka ini telah melakukan hal berarti.
Sehingga dunia ini menjadi lebih baik.
Tanpa seorangpun mengetahui.

Sang Baginda

Sang Baginda

Disini aku berdiri
Di puncak gunung tak berarti
Terdapat ribuan mati tak terpungkiri
Hanyalah sisa yang tidak berarti

Untuk apa aku kesini?
Apakah demi keluarga yang peduli?
Demi sang penunggu yang menanti?
Atau mungkin hanyalah sebuah ideologi yang terpungkiri?

Demi keadilanku ini.
Ribuan pedang untuk jutaan mati.
Ribuan perisai menanggung serangan berarti.
Sehingga sekarang aku seorang diri.

Meski begitu aku terus berdiri.
Mengetahui hal yang tidak berarti.
Mendapatkan hal yang penting.
Menggapai masa depan tak menanti.

Selasa, 02 Februari 2016

Real Nikki 3

2016/02/02/2016

Sekarang aku menulis ini pada saat sedang belajar. Tentu saja menggunakan teknologi hp saat belajar itu adalah hal yang tidak terpuji tapi karena guru tidak ada ...
dan daripada enggak ada kerjaan ... Bukannya menulis ini lebih baik?

Tadi aku belajar matematika. Dan ditengah-tengah belajar matematika ini terkadang sang guru bercerita beberapa hal yang berhubungan dengan matematika.

Well, karena materi matematikanya tentang bunga(pinjaman). Maka tentu dia juga bercerita tentang hal yang berhubungan dengan bunga.

Sebenarnya agak gimana gitu sama guru yang bukannya ngajar malah cerita itu. Hanya saja ceritanya itu berguna sekali untuk kehidupan sehari-hari.

Tapi mendengarkannya membuat kesan akhir yang tidak menyenangkan. Contohnya saja tadi ada orang yang bisa menghilangkan 4 trilliun dalam satu minggu, bagaimana liciknya bank dan bodohnya korban yang termakan oleh bunga yang kelihatannya murah.

Banyak sekali yang tanpa disadari kelicikan itu banyak terjadi dan si korban yang tidak punya banyak informasi akan menderita.

Informasi itu mahal ya? Aku beruntung bisa dapat informasi itu. Kayaknya kalau tadi tidak ada, kuburanku akan cepat digali tanpa sepengetahuanku.

Good riddance.

Setelah itu, enggak para guru tidak datang mengajar. Setelah itu sih aku pulang tapi ya enggak cepet banget, hanya satu jam lebih cepet dari waktu biasa pulang.

Kepergianku selanjutnya tidak lain ke togamas, untuk membeli light novel yang aku inginkan. Judulnya kalau disundakain sih henteu ulin henteu hirup. Sengaja diginiin, soalnya kalau aku sebutin langsung malah jadi promosi dan aku enggak mau promosi gratis.

Lalu pergi ke tempat les bahasa jepang. Disana aku sempat membaca light novel itu. Meskipun agak kebacanya aneh tapi lumayanlah. Tidak sia-sia uangnya. Paling cuman tes jepangnya aja yang nilainya jeblok. Karena seharusnya tadi itu aku niatnya belajar malah enggak.

Good leadass

Hari ini juga adalah hari terakhir aku belajar bahasa jepang. Mau vakum dulu demi UN dan sbmptn tersetan. Yah apa boleh buatlah...

Dan juga level aku berbicara bahasa jepang itu is very low man. Really a disgrace to all razan in the world.

"Kayaknya kamu di ijime (bully) sama sensei terus ... " salah satu temanku berkata itu sebelum shalat. Well, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi ya entah kenapa aku mencoba untuk mengajak sensei asli jepang itu untuk masuk islam. Tapi sepertinya kelihatannya kayak aku dibulli ya?

Padahal aku ngerasa biasa aja. 

Tapi ya ... mau gimana lagi. Aku agak keras kepala kalau bicara tentang agama. Dan ya ... Aku juga harus hati - hati juga sih. Agama islam bukanlah agama yang dipaksa. Aku berdosa kalau aku melakukannya.

Sekarang aku berada di rumah. Di rumah yang aman dan juga sepi ini aku terdiam.

Lalu aku beristirahat untuk esok yang datang.

"Bagiku tidak apa-apa loh Razan untukmu sebagai orang yang enggak peka dan juga enggak bisa baca perasaan itu."

"Aku pikir tidak ada salahnya untukmu melakukan hal tersebut. Memangnya kalau satu orang ini saja kamu enggak berani bagaimana dengan orang lain? Aku rasa kamu melakukan hal itu saja sudah menjadi keberanian yang bagus untukmu."

"Aku tahu kamu baik banget Razan. Padahal kamu sendiri hatimu sudah terluka ataupun juga babak belur tapi kamu masih mengkhawatirkan orang lain. Kalau itu bukan kebaikan lalu itu apa?"

"Masalah apakah dia masuk islam atau enggak itu bukanlah urusanmu Razan. Biarkan dia memutuskannya sendiri. Karena pada akhirnya tugas kita itu hanyalah memperingati mereka saja. Itu saja."

"Nah sekarang selamat malam Razan. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan sekarang ... Namun tenang saja Razan ... "


“Aku, sang cahaya ini, akan selalu berada di sisimu.” Setelah itu cahaya itu berubah dari wujud manusia seperti kegelapan menjadi normal tanpa berbentuk sama sekali.

Senin, 01 Februari 2016

Real Nikki 2

2016/1/2/2016
Hari senin selalu menjadi awal hari untuk masuk sekolah. Awal dari pembelajaran, awal dari aku harus keluar dari rumah.

Hah ... padahal kemarin-kemarin aku cuman sebentar saja ... kenapa liburnya terasa cepat? Begitulah orang yang menghamburkan waktunya berkata ketika sampai di hari senin. Dan orang yang menghamburkan itu termasuk aku.

Juga entah kenapa, kalau seandainya orang yang sabtu minggunya digunakan untuk bermain seperti orang yang menghamburkan ini. Akan terasa penyesalan yang mendalam. Baik karena prnya belum dikerjakan atau karena ada ulangan dan belum belajar.

Untungnya hari senin enggak ada ulangan. Dan juga di sekolah aku enggak belajar. Karena pelajarannya itu adalah olahraga, agama, bahasa sunda, dan seni budaya.

Tapi enggak belajar juga tidak bisa dibilang begitu. Karena guru agama dan olahraganya ternyata datang.

Untuk olahraga, no comment. Aku emang lemah di olahraga. Tapi tadi aku berhasil lari 14 keliling non-stop. Sebagai gantinya tubuhku kesakitan karena memaksakan diri.

Untuk agama, cuman latihan soal saja.

Pulang sekolah aku langsung pergi ke inten. Kali ini aku numpang sama temanku. Bukan Jun, tapi Ryo.

Tidak ada yang banyak dibicarakan di perjalanan sana. Namun entah kenapa Ryo kelihatannya lebih banyak bicara kasar dari dulu.

Padahal satu tahun lalu saat aku bertemu dengannya, dia jarang atau malah enggak pernah bicara kasar sama sekali.

Tapi sekarang ... aku tidak perlu mengatakannya dua kali kan?

Seseorang memang mudah berubah ya. Apalagi di saat SMA yang masih labil-labil begini.

Aku juga ingat, dulu kelas 10 aku lebih ceria daripada yang sekarang ini. Apa ya yang membuat aku berubah?

.... aku tidak akan mengatakan kalau aku tidak tahu. BANYAK faktor yang menyebabkan aku berubah.

Dan aku tidak mau menuliskannya disini.

“Karena itu adalah kejadian yang sangat mengesalkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Kan?” kegelapan dengan ingin digamparnya mengatakan itu kepadaku. Aku gampar dia.

Well, setelah itu tiba di inten. Belajar. Dan seperti biasa di intenpun aku sendiri kok. Tapi aku sudah terbiasa karena membiasa, jadi tidak apa-apa.


Malamnya aku tertidur. Dan aku menulis ini satu hari saat aku bangun tidur.

Real Nikki 1.3

Jumat dan sabtu berikutnya hanya sedikit yang harus dibahas.

Paling-paling jumat diberitahukan oleh guru kurikulum kalau hasil rapor untuk undangan (masuk perguruan tanpa test) akan dikirim ke internet senin.

Dan juga pada hari sabtu kemarin aku ketiduran dari jam 3 sore dan aku bangunnya malam jam 12 malam. Dan entah kenapa aku ingat saat itu aku bermimpi tentang game warcraft 3, questnya custom dan aku sebagai team orc. Tapi hero aku atlas yang harusnya dia team undead. Dan aku dibuli sama musuh komputer disana.

Enggak ngerti lagi apa maksudnya.

Untuk hari minggunya aku pergi tryout di salah satu bimbingan les. Enggak aku harus sebutin nama bimbelnya. Atau mungkin biar memudahkanku aku panggil saja "In".

Singkat cerita, soalnya susah. Tidak manusiawi dan juga tidak bisa dikerjakan oleh seorang anak sma.

Well, itu yang dikatakan orang-orang sekitarku sih. Tapi sebenarnya soalnya enggak susah susah amat. Tapi aku enggak bisa mengerjakannya karena faktor lupa. Sial.

Dan setelah itu aku pulang ke rumah dengan angkot. Tentu saja aku melakukannya sendiri.

Aku sudah terbiasa sendiri. Bukan karena terbiasa. Tapi karena membiasakan. Sekali lagi karena MEMBIASAKAN diri. Aku harap kalian mengerti apa dari kata itu.

Malamnya aku tidur sekitar jam 8. Meskipun tubuhku terasa hangat oleh selimut. Tapi tetap saja terasa dingin.

Rika lalu memelukku tanpa berkata apa-apa.

Rika yang tidak lain adalah perempuan yandere idealku. Sebuah ilusi yang dibuat yang tidak lain adalah untuk pembuatnya sendiri.

Salah satu wujud dan alasan yang membuatku masih bisa berpikir sehat.

Padahal baru bagian 1 tapi entah kenapa terasa seperti sudah mau ke akhir ya.


Tapi sayang ini masih awal.

Real Nikki 1.2

Masih lanjut sama hal tadi.

Pernah saat jajan istirahat kedua aku sama temanku melihat murid satu angkatan kita merokok dan juga bermalas malasan di kantin sekolah.

Tidak ada yang melaporkan mereka. Karena mereka itu adalah kelompok orang gaul. Yang satu angkatannya pun sendiri tidak punya keberanian untuk melaporkannya. Termasuk temanku dan juga aku ini.

Karena pada akhirnya manusia itu adalah orang yang tidak ingin kehidupannya terganggu. selama mereka tidak mengganggu hidup seseorang, buat apa menggangu mereka?

"Bukannya intinya kamu takut sama mereka?" diam kegelapan. Kamu tidak punya hak untuk berkata!

"Enaknya ya ... Yang hidupnya berkecukupan ... " gumamku yang tidak aku sangka bakal dijawab oleh temanku ini.

"Aku ngerti apa maksud kamu kok." temanku sebut saja Jun menjawab. Rasanya enggak enak kalau aku bilang temanku terus setiap saat.

"Orangtuanya kaya, hidup cukup, eh taunya malah males malesan sambil ngerokok. Malahan uang rokoknya itu dari orangtuanya sendiri."

"Ya ya... Padahal kalau aku punya uang banyak kayak mereka juga paling aku gunain buat usaha atau apalah itu. Daripada cuman bermain dan juga males kayak gitu ... "

"Ya begitulah hidup. Jan (nama panggilanku)."

"Padahal entar di akhirat hartanya itu semuanya akan dipertanggung jawabkan. Kira-kira mereka bakal jawab bagaimana ya..."

"Makanya di Islam itu, orang seperti itu bukanlah harus dibenci. Malah justru harus dikasihani. Tapi ya enggak tahu kenapa banyak yang iri kepada mereka ... "

Ya untunglah aku dan temanku tidaklah seperti mereka. Memang sih kemampuan ekonomiku masih lebih rendah daripada Jun. Tapi Jun ini masih tetap tahu mana yang baik dan benar.

Good riddance.

Oh ya hari kamis, di les bahasa jepang hasil jlpt (toefl nya jepang) diumumkan. Kartuku ilang tapi aku diperlihatkan nomornya oleh sensei yang bertanya pada teman satu lesku yang satu tingkat sama aku dan juga satu ruang tes sama aku. Yang perlu dicoba akhir nomor ujiannya dikurangi ataupun ditambahkan satu dari yang temanku itu (lol)

Karena passwordnya Itu gampang (passwordnya angka 99999999) semua hasilnya terlihat.

Dan aku lulus.

Tapi meskipun begitu tidak ada kepastian kalau itu asli  nomornya punya aku atau bukan (hanya ada nomor ujian saja dan aku hanya hapal passwordnya bukan nomor ujiannya)

Jadinya aku di kasih hanbun omedeto (setengah selamat)

Aku enggak tahu antara harus sedih atau senang mendengar itu.

Oh ya setelah itu aku ujian di tempat les tersebut. Ini mah ujian yang dibuat di tempat les, bukan ujian nouken kok.


Dan tetap saja susah. Sebuah keajaiban aku bisa lulus di nouken. Alhamdulilah.

Real Nikki 1.1

2016/01/31/2016

Ini adalah episode permulaan untuk memulai cerita Harian ini.

Well, bagaimana Kalau kita bicara dulu tentang 2 hari yang lalu?

Pada hari kamis waktu itu entah kenapa Aku melakukan hal biasanya Aku tidal lakukan.

I mean awalnya tidak ada yang aneh disana. Aku belajar normal seperti hari-hari sebelumnya.

Hanya saja di jam pelajaran ketiga ada pengumuman. Pengumuman yang memberitahukan bahwa murid-murid yang berada di dalam kelas untuk menghentikan pelajaran dan pergi ke lapangan.

Alasannya itu ternyata untuk menghadapi MEA yang baru saja diadakan sekarang ini. Bagaimana kita sebagai murid Indonesia harus tahu bagaimana cara menghadapi MEA tersebut.

Untuk itulah kenapa semua murid sekarang duduk diam di lapangan ini. Agak telat dari waktu yang direncanakan dikarenakan murid kelas 3 yang di kantin dan juga malas-malasan ke lapangan.

Aku sebagai murid kelas 3 sangat malu terhadap kelakuan itu. Padahal mereka sudah kelas 3, sudah semakin senior, bukannya perilaku semakin dewasa, malah lebih malas daripada murid kelas 1 yang sudah langsung berada di lapang?

Well, inilah yang terjadi huh ketika seseorang mendapat suatu posisi atau jabatan kali ya. Apa mungkin mereka enggak tahu hal yang namanya disiplin dan juga memberi contoh yang baik?

Sayang aku tidak bisa mengatakan itu keras-keras kalau aku mengatakannya bisa-bisa aku akan dimusuhi oleh satu angkatanku.

Pada akhirnya aku hidup dimana yang baik itu salah dan yang jahat harus diidolakan.
Setelah berkumpul, guru menceritakan tentang bagaimana cara menghadapi MEA itu. Yang sebenarnya lebih kebanyakan membahas bully yang aku tidak tahu apa hubungannya dengan MEA. Atau jangan-jangan ada hubungannya?

Toh tapi tetap saja murid-murid kelas 3 tidak mendengarnya. Padahal itu berisi pesan kepada kita kelas 3 untuk tidak membully adik kelas 3. Tapi mereka tidak mengacuhkannya.

Jadi pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti jalan yang sama dengan kelas 3 sebelumnya huh? Dengan menggunakan "kata kelas 3" mereka bisa melakukan apa saja yang mereka suka huh?

Pada akhirnya mereka berjalan pada jalan yang salah dan bodoh huh seperti tahun sebelumnya?

....

Well, sayang aku bukanlah seperti mereka. Karena aku adalah aku. Razan si minoritas.

Pembahasan itupun tidak lama kemudian selesai. Ketua dari setiap kelas dipanggil ke depan, lalu semua murid disuruh berdiri. Untuk mengucapkan perjanjian. Perjanjian yang terdiri dari beberapa baris, yang isinya adalah dilarang mencontek, menaati hukum yang ada dan lain sebagainya.

Sayang, aku dengar kebanyakan dari mereka bermain dengan perjanjian itu. Atau bahkan ada yang mengeditnya karena dia tidak bisa menaatinya.

Pada saat itu ... Pikiranku berkata

"Kenapa kalian mempermainkannya? I mean aku tahu kalian cuman bercanda. Tapi lihatlah keadaannya! Hal itu bukanlah hal yang tidak boleh dibercandakan tahu? Apalagi mengeditnya sesuka hati kalian?"

"Bagaimana kalian bisa menjadi dewasa nanti? Kalau hal begini saja kalian malah menganggap itu sebagai hal kecil ... "

"Apakah kalian pikir hal yang kalian lakukan itu tidak akan diadili di hari kiamat?"

Tapi tidak ada seorangpun yang mengerti hal itu. Mereka semua hanya senang saja melakukan itu.

Apakah karena mereka masih muda mereka berkata itu, atau karena mereka emang tidak peduli dengan itu.

Kalau begini terus kita akan menjadi negara bodoh dan miskin sampai seribu tahun yang akan datangpun!!!

Kenapa kalian semua meremehkannya?

...

Jadi pada akhirnya aku tahu satu hal.

Pada akhirnya aku sendiri. Pemikiranku terlalu berbeda dengan teman sekitarku. Membuatku berbeda dari orang lain di sekitarku.

"Jadi memang begitulah pada akhirnya dunia itu Razan." kegelapan memberitahukanku di atas diriku. Tubuhnya gelap berbentuk seperti bayangan boneka terubozu berambut, lalu menggunakan bayanganku sebagai tubuhnya itu.

"Beginilah Razan Temanmu ataupun juga orang yang berada disekitarmu Razan. Mereka tidak peduli tentang masa depan, kiamat, MEatau apalah itu namanya."

"Yang mereka pedulikan hanyalah mereka senang. Mereka bahagia atau mungkin paling tidak "peduli amat dengan dunia atau negara ini selama tidak ada hubungannya denganku ini."

"Bukannya pada akhirnya sifat manusia yang sebenarnya begitu? Sama saja ketika kita bertemankan? Bukannya kita berteman karena saling menguntungkan satu sama lain bukan? Tidak ada pertemanan yang gratis di dunia ini!"

"Aku juga tidak peduli dengan semua ini tentunya. Aku malah tidak mengerti kenapa kamu tidak begitu Razan. Malah menjadi minoritas dan juga berpikir seperti itu ... "

Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk membalas perkataannya itu. Mungkin kegelapan tidak bisa melihat hal itu.

Tapi aku dapat melihatnya dengan jelas. Kebencian, kekesalan, yang terpendam dari negeri Ini. Sebuah api yang tidak tahu bagaimana harus dipadamkannya itu.

Dan itulah hal yang ditinggalkan oleh penjajah kita, jepang dan belanda.

Setelah itu entah kenapa mukaku sedih dan aku tidak nafsu untuk berbicara.

Meskipun pada akhirnya aku bisa senang berkat temanku itu. Tetap saja rasa sedih ini tidak bisa hilang begitu saja.


Real Nikki 0

Tes

Kayaknya Aku akan beat series baru. Judulnya Real Nikki.

Dinamakan real Nikki karena ini bukanlah yume(mimpi) Nikki atau pun juga normal Nikki.

Karena real Nikki terdapat sebuah kenyataan Dan juga Nikki adalah sebuah Kata yang tidal banyak orang mengerti maksudnya.

Bisa disimpulkan juga Kala hal Ini adalah kenyataan, tapi sebagian lagi mungkin bukanlah kenyataan.

Tidak ada maksud atau Alasan tertentu Aku melakukan ini.


Well, sepertinya sesuatu yang baru akan mulai do blog ini.

Selasa, 05 Januari 2016

Aku bukanlah orang jepang. Anehnya aku terjebak di dunia paralel. (1)

Chapter 1 : Permulaan dari dunia paralel.
Halo semuanya.
Ini aku. Aku si manusia nyasar yang terdampar di dunia paralel. Bukan orang jepang sayangnya.
Melainkan...
Aku hanyalah orang luar negeri biasa yang sempat hidup di dunia modern.
Well,
Kayaknya aku lupa memperkenalkan diriku ya.
Perkenalkan, namaku adalah Namal. Aku adalah seorang murid SMA kelas tiga. Yang sebentar lagi itu akan mengalami yang namanya undangan, ataupun juga ujian nasional.
Tapi, sayang aku pikir kalimat sebelumnya itu sepertinya tidak akan pernah aku lakukan.
Karena dan tentu saja aku berada di dunia paralel. Dunia dimana sihir, pedang dan juga monster ada.
Dunia dimana hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dunia dimana menjadi cerita ngetrend di jepang saat ini ...
Ya begitulah ...
Anggap saja tadi itu adalah pemanasan. Karena aku baru saja terbangun dari pingsanku tadi. Mungkin karena aku tadi bertarung dan juga terluka di bagian kakiku tersebut.  Kelelahan mungkin penyebabnya.
Aw... aku menggerakan kakiku dan aku merasakan rasa sakit dari kaki tersebut.
Namun ketika melihat kakiku yang terluka tersebut. Ada hal yang tidak biasa terjadi disana.
Karena kakiku yang harusnya terluka cukup dalam itu sekarang sembuh. Sembuhnya memang tidak seperti sembuh yang benar-benar sempurna, tapi sembuhnya itu paling tidak membuat lubang yang bisa mengeluarkan darah seperti tadi.
“Waw...” aku benar-benar tidak menyangka kalau ini akan sembuh. Melihat bekas luka yang tertutup warna merah di kakiku ini. Memang tidak kelihatan seperti luka kecil yang akhirnya keluar kulit warna kehitaman, tapi ini benar-benar merah seperti darah.
Apakah mungkin luka sebesar itu dapat sembuh dan juga jadi begini!?
Apa jangan-jangan ini adalah kemampuan cheatku di dunia isekai.
Lagipula daripada itu, bukannya aku bisa mengakses menu dan juga melihat statusku sekarang?
Tidak ada respon yang terjadi ketika aku berkata itu.
“Terima kasih dunia atas jawabannya.” I mean ... apa lagi yang harus aku katakan?
Aku mencoba berdiri. Dan sudah kuduga, terdapat rasa sakit yang terjadi ketika kakiku masih bergerak. Rupanya aku belum sepenuhnya sembuh disini.
Tapi, aku tidak begitu mempedulikan itu dan kembali menjelajah di hutan ini. Sambil menjelajah aku mencoba berbagai macam hal agar menu status yang seperti game itu akan keluar dari diriku. Seperti mengucapkannya dalam hati, membayangkan menunya seperti apa ...
Nihil. Aku udah enggak mau komentar apa-apa lagi tentang itu. Sudah muak.
Tidak lama kemudian, kabar baik datang kepadaku.
Aku menemukan sungai jernih mengalir di sini. Sungai ini berada di antara hutan yang satu dengan hutan yang lain, sehingga sungai ini dapat disinari cahaya matahari. Disekitar sungai itu juga banyak batu berbentuk bulat yang ukurannya sekitar satu telapak tangan manusia.
Aku senang. Karena pada akhirnya aku bisa mengisi rasa hausku ini dengan air yang benar-benar bisa diminum.
Masalah makan ... hahaha. Aku masih belum bisa menemukan makanan yang bisa dimakan disini.
Disaat aku mau mengambil air di sungai yang mengalir itu, aku melihat seekor rusa merangkak ke mulut sungai. Lalu dia menjulurkan lidahnya untuk meminum air tersebut.
Air itu dia minum, satu teguk dua teguk masuk ke dalam tenggorokannya. Setelah itu rusa tersebut mengangkat kepalanya dan terdiam.
Aku kira diam itu karena dia sudah puas minum air. Nyatanya bukan.
Rusai itu lalu tergeletak di bebatuan sungai itu dan tidak bergerak lagi. Setelah itu rusa tubuh rusa itu hancur berkeping-keping mengeluarkan darah.
Aku, salah satu makhluk yang akan menjadi korban yang sama, memutuskan untuk tidak akan menjadi korban yang di depan mataku ini.
Setelah itu aku kembali memasuki hutan dan mencari lagi sesuatu yang bisa membantuku sekarang.
Nihil sedihnya. Meskipun aku menemukan tumbuhan yang ada buah, jamur, dan hewan. Aku tidak dapat memakannya sama sekali.
Karena aku tidak tahu, buah apa, jamur apa, dan juga hewan apa yang berada di sana. Karena kejadian di sungai tadi itu. Aku tidak tahu apa aku harus memakan hal tersebut atau tidak.
Jadi aku akan terus berjalan, berjalan dan berjalan. Berharap aku akan menemukan sebuah desa yang akan memberikan pertolongan kepadaku ini.
Sayangnya, bukannya pertolongan ataupun makanan yang aku dapat. Penderitaan dan kesengsaraanlah yang aku terima.
Monster, berbagai jenis monster berada di hutan ini. Lalu saat mereka melihatku, mereka mengejarku dengan tatapannya yang penuh dengan membunuh.
Aku pernah melawan monster-monster yang sempat bertemu denganku. Simpanse berukuran seperti truk, rubah berekor empat, dan juga serigala yang sempat tadi aku bunuh, aku sempat melawan mereka.
Tapi, anehnya aku tidak dapat mengalahkan ataupun juga melukai makhluk tersebut. Termasuk serigala yang pernah aku bunuh sebelumnya. Yang ada hanyalah dihajar habis-habisan layaknya sarung tinju.
Dan tentu saja menimbulkan banyak luka yang berada di diriku ini. Anehnya luka itu tidaklah sembuh seperti kakiku tadi.
“Hah ... “ aku menelentangkan tubuhku di pohon ini. Aku sudah tidak tahu berapa lama yang terjadi, tapi sekarang tetap saja aku lelah.
Aku tidak akan mengeluh terhadap keadaanku sekarang.
Aku tidak akan mengeluh terhadap luka yang banyak ini.
Aku tidak akan mengeluh terhadap panas yang aku alami sekarang ini.
Aku tidak akan mengeluh terhadap penderitaan yang sekarang aku alami ini.
Ya, beginilah aku. Beginilah diriku ini.
Dari dunia sana ataupun dari dunia sini sepertinya aku akan sama seperti ini ya. Tidak begitu mempedulikan apa yang terjadi sama diriku ataupun tidak pernah mengeluhkannya ya.
Kira-kira sejak kapan ya aku menjadi begini?
Pada saat itu terbayang suatu kenangan saat aku di dunia tersebut. Tapi aku malas membayangkan hal tersebut. Enggak apa-apa kan?
Namun suasana sepi ini tak bisa bertahan lama. Karena, monster itu, rubah berekor empat itu berada di depanku. Melihatku sekarang dengan hasrat memakannya itu kepadaku.
Jadi, istirahat sebentarpun juga tidak diberikan? Pikirku ketika rubah itu bergerak kepadaku.
Juga tubuhku sekarang benar-benar panas sekarang ini. Saking panasnya sekarang aku tidak bisa kabur dari rubah tersebut.
Jadi aku pikir, sekarang benar-benar berakhir ya?
Hahaha. Rupanya perjalananku benar-benar berakhir sekarang.
Hahahaha...
Hahaha...
Tidak! Memangnya kau pi-
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Bagian tanganku terbelah. Tanganku terpotong dari bagian tubuhku dan tergeletak di tanah tanpa aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!? Bukannya pada saat-saat begini itu aku akan bisa mengalahkan rubahitu tanpa harus kehilangan tanganku? Kenapa malah begini!?
Rubah itu lalu mengambil tanganku lalu memakan tanganku tersebut. Di depan mataku.
Dia memakan tanganku itu dengan lahap. Dia memakan tanganku dengan tangannya yang mempunyai cakar itu.
Dia memakan tanganku sambil dia menikmati diriku yang menderita ini.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Dia mempermainkanku. Dia mempermainkanku. Dia dengan menyebalkannya mempermainkan diriku yang tidak bisa apa-apa ini.
Aku mencoba untuk bergerak. Tapi, aku tidak bisa, panas yang berada di tubuhku ini tidak tahu kenapa tidak bisa membuatku bergerak.
Rubah itu hanya memakan tanganku, yang sekarang banyak darah keluar dari mulutnya.
Dia tidak menyisakan daging itu sedikitpun, dia tidak mempedulikan darah yang keluar dari mulutnya.
Aku, kesadaranku, semakin lama semakin menghilang, kalau begini... terus bisa-bisa ...
Aku...
Tidak akan bisa melihat darah tersebut ...
... darah?
Darah? Kenapa aku berpikir darah disaat seperti ini!? Apa karena aku kekurangan darahkah sekarang ini!?
Serigala itu juga tidak mempedulikan darah yang keluar dari tubuhku itu.
Apakah serigala tidak mempunyai darah? Bukannya hewan mempunyai darah?
Lagipula melihat tubuhnya yang banyak itu bukannya banyak darah?
Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah.
Rasanya menyenangkan sekali ya, jika banyak darah terlihat di pikiranku ini.
Rasanya lezat kali ya jika darah itu masuk ke dalam tenggorokanku itu.
Bukannya lezat sekali memakan daging yang juga ada darah di dalamnya?
Pada saat itu entah kenapa semua hal yang berhubungan dengan darah masuk ke dalam kepalaku. Baik dari kelihatannya, bentuknya, dan juga cara mengendalikan darah tersebut.
Rubah itu langsung aku serang tanpa ragu lagi. Aku langsung menggunakan darah yang berada di tanah lalu aku ubah darah itu seperti air dan melemparkannya ke mata rubah tersebut.
Rubah itu tidak menyangka kalau darahnya itu akan mengenai matanya dan dia mengelap matanya untuk bisa melihat lagi. Tapi pada saat dia bisa melihat, yang ada hanyalah darah yang berbentuk seperti tombak yang langsung menancap ke kedua matanya tanpa ampun.
Rubah itu meronta karena kedua matanya terluka, tapi itu tidak selesai, karena aku membuat lagi tombak yang terbuat dari darah yang aku bekukan dengan keras. Yang saking kerasnya itu dapat menembus rubah itu sekali lagi seperti tadi.
Tidak berhenti lagi, aku membuat cakar dari darah dan mencakar bagian depan rubah tersebut. Setelah itu aku membuat pedang dengan jenis sama dan aku arahkan itu kepada rubah yang tidak berdaya.
Dan itu terus aku lakukan sampai akhirnya dia tidak berdaya. Tapi, aku pikir tidak berdaya itu tidak benar, karena sekarang rubah itu telah mati. Dengan tubuh yang berceceran dan juga darah yang keluar banyak.
Tanpa berkata apa-apa lagi. Aku lalu meminum darahnya dan memakan daging tersebut.

Pada saat itulah aku menyadari  apa cheat yang aku punya. Dan saat itu juga, aku bisa menikmati makanan pertamaku di dunia paralel.