Selasa, 29 Desember 2015

Rasanya aneh jika diterimanya suatu cerita itu dari dua paragraph saja (Prolog)

Prolog.
Itulah komentarku ketika aku sedang bermain laptop. Saat itu aku  melihat sebuah artikel yang mengatakan kalau editor itu menilai cerita persis seperti yang aku katakan diatas.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh editor ketika menerapkan sistem itu kepada cerita yang lainnya? Apakah karena terlalu banyak cerita sehingga menggunakan cerita yang aneh seperti itu? Apakah karena emang seluruh cerita bisa dilihat dari dua paragrahp saja?
Aaaa
Aku tidak peduli sih. Toh, seberapa banyak aku berpikir tentang itu. Tidak akan ada satupun yang berubah kok di dunia ini.
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
“Ya sudahlah.” Aku lalu menutup website yang berisi artikel tersebut. Lalu mencari website yang lain, seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi. Tapi kalau aku mengatakan itu rasanya aku itu terlihat kejam ya. Well,
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
Ya, beginilah kehidupanku akhir-akhir ini. Hanya bermain laptop dan berdiam di rumah.
Ujian akhir semester telah berakhir. Pembelajaranpun tentu saja tidak optimal dari seharusnya. Sehingga banyak murid-murid malas datang ke sekolah. Paling juga kalau datang untuk nanya “Ibu saya nilainya berapa?” “Jangan diturunin dong bu nilainya!” ya biasalah masih anak SMA.
Aku juga masih anak SMA sih. Anak SMA kelas 3 semester satu yang mau menuju semester dua. Yang di antara kedua semester itu terdapat libur akhir tahun yang tinggal beberapa hari lagi dari hari sekarang.
Toh, akhir tahun awal tahun tengah tahun, hari-hari tetap saja sama seperti biasanya. Aku enggak mengerti kenapa semua orang harus merayakan akhir tahun yang tidak ada bedanya sama hari-hari biasa.
Ya sudahlah. Toh, melakukan itu juga tidak akan mengurangi umur mereka kok.
Well, paling tidak sekarang berkat adanya akhir tahun itu, terdapat hari libur. Yang hari liburnya itu bisa digunakan untukku untuk istirahat.
Istirahat yang aku maksud itu tidak lain adalah berada di rumah bermain dengan teknologi dari pagi sampai malam. Istirahat yang tidak membutuhkan sosial ataupun teman dalam melakukannya. Istirahat yang kelakuannya itu mirip seorang NEET atau bisa dibilang sampah masyarakat.
Well, jadi ya... sekarang aku sedang bermain laptop seperti yang dikatakan tadi. Browsing, bermain game, ataupun menonton video di youtube. Itulah yang aku lakukan sehari-hari demi mengisi waktu liburku ini.
Tidak lama kemudian, aku beranjak dari kursiku ini. Kemudian aku keluar dari kamarku dan ke ruang tengah rumah ini.
Aku melihat ruang tengahku ini.
Ruang tengah ini adalah ruang keluarga. Terdapat meja di tengah, dengan kursi mengelilinginya. Yang dipojok dari ruangan selalu ada televisi yang menghadap kursi. Benar-benar tempat yang sederhana dan juga kosong tidak ada isinya.
“Sudah berapa lama ya, ruangan ini kosong seperti ini?” gumamku meninggalkan ruang tengah ini. Lalu kemudian aku ke dapur yang berada di belakang ruang tengah.
Aku membuka pintu kulkas yang berada di dapur. Isinya itu adalah es batu, plastik kosong, dan juga tempat telur yang tidak ada telurnya. Secara literatur, kulkas itu memang ada isinya, tapi secara perut kulkas itu tidak memiliki sesuatu yang dapat dicerna oleh perutku ini.
Menyadari kulkas yang begini, mau tidak mau aku harus pergi untuk belanja. Bukan karena ada niat untuk mengisi kulkas itu penuh, tapi emang ingin makan sesuatu untuk perutku ini.
Aku lalu keluar dari rumahku ini. Mengecek kembali uang yang aku ambil di kamar berada di sakuku ini. Aku mengunci pintu rumah dan sambil membawanya menuju alfamart terdekat.
 Setelah membeli cukup banyak makanan di alfamart aku keluar dari ruangan dari alfmart tanpa bicara apa-apa.
Kemudian aku menghentakkan kakiku dan berjalan di trotoar ini.
Hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Enggak tahu kenapa aku berpikir seperti itu, apakah karena mobil yang jarang melewati inikah? Apakah karena jalan trotoar yang terlihat gelap inikah?
Ataukah mukaku yang beginikah yang menyebabkan hal tersebut?
“Rasanya aneh sekali. Untukku berpikir seperti tersebut ... “ aku tertawa kecil setelah berkata itu. Sekarang aku berada diperempatan jalan. Yang ketika diperempatan ini aku lurus aku akan menemukan rumahku yang berada di hutan belantara tersebut.
Tapi entah kenapa, aku tidak memilih jalan lurus tersebut. Entah kenapa aku malah memilih jalan berbelok itu.
Yang membuatku sekarang berada di sebuah padang rumput. Sebuah padang rumput yang tidak luas, berbentuk mirip persegi yang disekitarnya itu dikelilingi oleh pepohonan.
Memang. Memang tidak ada hal yang unik dari tempat ini selain karena banyaknya tumbuhannya. Namun ada satu keistimewaan dari tempat ini yang di tempat lain aku tidak bisa melakukannya.
Bulan.
Bulan yang bewarna putih itu aku bisa melihatnya dengan jelas dan juga tenang di tempat ini. Angin malam yang berhembus, rumput-rumput yang berserakan karena angin dan juga suasana sepinya di tempat ini ... tidak ada alasan untukku menolak berada di sini lama.
Aku duduk di rerumputan tersebut. Kemudian aku menggapai tanganku ke bulan nan jauh itu. Aku mencoba membayangkan kalau bulan itu bisa aku ambil di tanganku ini.
“Tapi kenyataannya tidak bisa. Tidak mungkin sebuah bulan bisa terambil oleh tangan biasa yang tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan ini ... “
Seandainya hal itupun terjadi, maka yang namanya kenyataan dan fakta pasti tidak akan ada.
“Apakah ... apakah hidupku akan begini sampai aku mati?”  Bulan itu tidak berkata apa-apa ketika aku berkata itu. Seakan-akan jawabannya itu, tanpa bulan mengatakanpun aku bakal tahu jawabannya.
Ya, bukankah memang begitu dunia ini?
Meskipun, meskipun aku punya permintaan keinginan atau juga hasrat ... pada akhirnya hal tersebut tidak bisa dikabulkan dunia ini.
Bukankah memang begitu dunia ini?
“Biasanya, kalau orang berpikir seperti itu. Pasti bakal ada sesuatu yang terjadi kalau ini bukanlah dunia nyata. Misalnya saja petir langsung datang kepadaku, atau enggak flashback satu panel di manga-manga ... “
Tentu saja hal itu tidak terjadi. Tapi aku enggak kaget sama sekali.
“Yap ... aku pikir sudah cukup aku melakukan hal enggak jelas disini. Sudah saatnya aku pulang ke rumah.”
Dan seperti itulah kisahku satu hari ini. Berakhir tanpa ada hal yang berarti ataupun berguna bagi siapapun juga.
“Menurutku tidaklah begitu, manusia. “ pada saat aku membalikkan badanku. Terdapat sesuatu yang melayang tidak tinggi di hadapan diriku.
Sesuatu itu tidaklah besar ataupun tidaklah kecil. Ukuran dia itu berbentuk seperti manusia. Tubuhnya juga sebenarnya berbentuk seperti manusia. Entah kenapa meskipun penampilannya itu mirip manusia, aku merasakan dia itu bukanlah manusia. Karena terdapat hal yang janggal yang membuat dia bukanlah termasuk manusia.
Seluruh tubuhnya tertutup oleh perban. Tidak hanya tangan, kaki dan badannya juga yang tertutup, badan, leher, bahkan telingapun tertutup sama perban seakan-akan dia adalah mumi.
Dia juga menggunakan headset, dan headphone sekaligus. Namun tidak menutup daun telinga belakangnya yang berisi perban itu.
Tidak hanya itu, dia juga menggunakan sebuah topeng. Sebuah topeng setengah bagiannya hitam, setengah bagiannya putih. Dimana di bagian putih itu terdapat mulut cemberut setengah dan mata hitam kesal , begitu juga bagian hitam terdapat mata polos dan juga mulut tersenyum.
Tapi semua itu tidaklah begitu menunjukan kalau dia itu berbeda dari manusia.
Karena yang paling membedakannya adalah auranya. Auranya yang penuh dengan ketidakjelasan itulah yang membuat dia bukan manusia. Takut, seram, misterius, perasaan itu bercampur aduk dan tidak bisa dijelaskan oleh perkataan.
“Aku kabulkan permintaanmu manusia.” Makhluk itu berbicara tanpa melepaskan topeng yang dipasangnya itu.
“Aku, yang bernama Netral ini. Akan mengabulkan hasratmu yang terdalam ... wahai manusia.”
"Tapi memangnya kau pikir aku akan memberikan semuanya begitu saja tanpa apa-apa huh!?”
“Tentu saja aku akan meminta gantinya. Ganti yang setara ataupun lebih besar daripada yang aku berikan itu."
"Oleh karena itu. Nikmatilah dulu saja yang aku berikan ini. Sebelum kamu tidak bisa menikmatinya lagi untuk selamanya. Huhuhu."
Pada saat itu aku sadar. Bahwa sekarang hal yang aku lalui itu akan berbeda dari yang biasanya. Aku tahu dan aku mengerti, bahwa hal seperti pertemanan, kesenangan, akan tidak berguna di saat kedepannya.
Karena ...

Bukankah dunia pada akhirnya begitu?

Sabtu, 26 Desember 2015

Ini hanyalah aku dia dan dunia ini. Lanjut 1

Chapter 1.
Aku berpikir ...
Apa yang akan terjadi ketika aku mati? Apakah aku akan mengalami siksaan kuburkah? Apakah akan ada yang menangis dengan kepergianku ini? Ataukah dunia akan sama seperti sebelumnya?
Lalu, bagaimana dengan Sinthia?


Ketika aku membuka mataku, cahaya matahari bersinar dengan silaunya. Membuatku tidak dapat membuka mataku dengan baik disini. 



Sebentar, bukannya aku tadi ditabrak mobil?
Aku mengamati keadaan tubuhku langsung tanpa berpikir panjang. Mata, kepala, badan, tangan dan juga kakiku ini, jangankan darah, luka atau bahkan goresanpun tidak ada sama sekali di tubuh ini.
Apa-apaan ini? Aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku terhadap apa yang terjadi di depanku ini. Karena kalaupun aku bilang kalau itu mimpi, hal itu adalah tidak mungkin karena aku sampai sekarang masih merasakannya. Merasakan, bagaimana rasanya tertabrak dan juga terjatuh karena benda tersebut.  Benar-benar tidak menyenangkan, jika ditanya bagaimana rasanya.
Padahal dulu aku sering menertawakannya ketika ada adegan itu dalam suatu cerita. Sekarang mungkin, aku tidak dapat tertawa karena hal itu.
Aku lalu berdiri dan memandang kedepan. Padang rumput yang luas terhempas. Pemandangan yang tidak pernah aku lihat berada di depan mataku sekarang.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku sekarang? Keadaan tubuhku saja sudah membuatku kaget, dan sekarang aku berada di tempat yang tidak dikenal. 
Tidak tahu kenapa, aku sudah tahu jawabannya tanpa ada seorangpun yang menjelaskannya kepadaku. Namun, aku butuh lebih banyak bukti lagi untuk memastikan apakah jawabanku benar atau tidak.
“Hah ... “ menghela napas, aku mulai pergi dari tempat ini. Aku berjalan di padang rumput yang luas itu. Rumput hijau, rumput hijau pendek, dan rumput hijau pendek muda sajalah yang dapat aku lihat.  Untungnya masih ada satu atau dua pohon berada di tempat ini.
Fiuh, untunglah. Kalau semuanya rumput, aku enggak tahu kalau aku masih bisa bertahan di tempat ini dengan normal.

Sekitar satu jam aku berjalan di padang rumput ini, di depanku sekarang sudah tidak lagi rumput. Melainkan awal dari sebuah hutan lebat yang tampaknya belum dijelajah sama siapapun disini.
Kira-kira apa aku masuk ke hutan inikah? Atau aku lebih baik berada di tempat yang disinari matahari ini?
Kalau menurutku sih lebih baik masuk ke hutan. Mencari makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Namun, gimana ya ... selama satu jam ini itu aku tidak pernah menemukan sesuatu selain diriku sendiri di tempat ini.
Rasanya itu ... seperti jawabanku ini ... semakin lama semakin benar saja. Dan aku sangat ingin jawabanku itu tidak benar.
“Dunia itu memang penuh dengan pilihan ya.” Setelah berkata itu aku bergerak dan aku memutuskan untuk masuk ke dalam rimba tersebut.



Rimba ini berbeda. Biasanya tadi itu aku menapakkan kakiku ke rumput untuk melangkah, namun disini aku malah menginjak tanah sebagai landasannya. Pohon-pohon raksaksa terpisah setiap 1 atau 2 meteran membuat hampir sebagian cahayanya terhalang oleh daunnya yang berada di atas. Disini juga terdapat tanaman-tanaman yang tinggi sekitar 1-2 meter tumbuh di  sekitar pohon tersebut. Jarang terdapat tanaman diantara pohon tersebut. Kalaupun ada, itu menggangguku yang sedang bergerak disini.
Mungkin karena hal itulah yang membuat pemandangan disini indah. Pemandangan alam yang natural dan indah ini, aku bisa merasakannya langsung dan bukanlah dari gambar internet.
Tentu saja, aku tidak bermain ma-
BRAK!!!
Pemandangan yang berada di depanku ini hancur berantakan. Di depanku sekarang kosong tidak ada apapun ... tidak, ada satu hal. Ada satu hal yang berada di depan diriku ini. Satu hal yang aneh, belum pernah aku lihat, dan yang paling penting ...
Dia punya niat untuk membunuhku.
“Graa ... “ dia melihatku dengan niat membunuhnya itu. Dia memililiki bentuk tubuh sebesar beruang, tapi agak kurus dan lebih berotot daripada beruang. Dia juga memiliki cakar putih yang tajam di tangan dan kakinya, cakar yang tajam ternoda merah dengan salah satu tangannya merangkul mayat yang aku juga tidak tahu dia itu apa. Kepalanya yang berbentuk seperti serigala itupun tidak bisa aku sebut serigala, karena di kepalanya terdapat tanduk yang membuat dia bukan seperti serigala yang aku tahu.
Setelah aku melihat ini, aku tahu. Aku mengerti. Ternyata jawabanku ini benar.
Dunia ini bukanlah dunia yang aku dulu tempati. Bukanlah dunia modern dimana mesin telah menjadi hal yang biasa di kehidupan sehari-hari. Bukanlah juga tempat dimana perang dengan uang dan budaya lebih sering daripada dengan senjata.
Melainkan disini adalah dunia paralel. Dunia dimana pemikiran biasa yang aku punya ini tidak akan sama dengan apa yang berada di mataku ini. Sihir, pedang, dan monster, sesuatu yang harusnya hanya ada di cerita sekarang telah berada di depanku. Sambil berniat membunuhku disana.
“Hahaha ... “ sesaat sebelum keadaan di depanku ini hancur. Aku sempat melihat ada sesuatu yang terbang kebelakangku. Pada saat aku mengamati apa yang berada di belakangnya itu, ternyata itu adalah hewan seperti rusa. Yang cuman ada kepalanya saja terdampar di tanah.
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” tubuhku langsung berlari setelah monster itu mengaum di depanku ini. 
Aku kabur. Aku kabur dari monster yang sekarang mengejarku dengan penuh nafsu tersebut. Pohon-pohon aku lewati meskipun pada akhirnya tetap saja terlihat sama bagiku semua pohon tersebut.
Monster itupun juga sepertinya tidak begitu mempedulikan pohon tersebut. Karena baginya, pioritas utamanya tidak lain adalah untuk mengincar mangsa yang sangat  lezat dan empuk yang sedang berlari dari kejarannya.
Mangsa itu tidak lain adalah aku.



Tidak butuh waktu lama. Sekitar satu menit saja, dia sekarang sudah bisa berada di dekatku. Mendekatiku yang lelah dan tidak berdaya ini, dan pada akhirnya salah satu dari pukulannya mengenaiku dan akupun terbang tidak tahu ke arah mana.
Saat aku menyadari aku terpukul itu ketika tubuhku itu mengenai pohon, lalu pohon itu hancur dan aku jatuh terguling-guling.
Pada saat aku berhenti, aku bisa merasakan betapa sakitnya pukulan itu di bagian badanku. Sampai aku tak dapat menahan darah yang keluar dari mulutku ini. Penglihatankupun juga sempat tidak jelas karena serangan itu tadi.
Aku mencoba.
Aku mencoba untuk lari dari monster yang kuat tersebut. Tapi, bukannya bisa kabur, yang bisa aku lakukan hanyalah menjadi mainannya dan menerima rasa sakit yang benar-benar tidak menyenangkan ini.
Kenapa dia tidak langsung saja memakanku? Apakah karena dia itu kuatkah? Apa karena dia kuat dia dengan seenaknya melakukan inikah?
... semuanya sama saja.
 Tidak hanya di dunia sana ataupun dunia sini. Pada akhirnya beginilah dunia itu bekerja, yang kuat selalu memakan yang lemah. Si Kuat selalu saja mengalahkan yang lemah. Si kuat, si kuat dan selalu saja si kuat yang bisa melakukan semuanya di dunia tersebut.
Lalu apa yang bisa dilakukan si lemah?
SI lemah hanya bisa sembunyi. Si lemah hanya bisa ketakutan. Si lemah hanya bisa pasrah saja dengan apa yang terjadi kepada dirinya tersebut.
Maksudku, jika seandainya hal itu bisa berubah, seadainya saja hal itu GAMPANG diubah, tidak perlu lagi ada yang namanya “si lemah” di dunia ini.
Brak!!!
Sekali lagi aku terbang dan terjatuh ke dalam tanah. Aku tidak tahu berapa banyak luka yang berada di dalam tubuhku ini. Tapi kupikir dengan rasa sakit di seluruh tubuh dan juga kesadaranku yang hampir hilang ini, sudah jelas sekali kalau aku ini terluka parah.
Monster berkepala serigala itu sekarang melihatku. Dia diam dan hanya melihatku sekarang. Dengan mulut dan giginya yang bertaring itu, aku bisa merasakan kalau dia sedang menertawakanku yang tidak bisa apa-apa ini.
Bahkan-bahkan sampai sinipun ... aku kosong. Tidak marah, tidak kesal, tidak senang, ataupun juga tidak bahagia. Kosong tanpa ada isi sama sekali.
... sudah cukup. Aku sudah tidak ingin lagi hidup. Aku sudah lelah, capek dan selesai terhadap semua ini. Aku ingin agar semua ini berakhir secepatnya.
 Toh, kalaupun aku ada atau tidak ada, dunia akan sama saja seperti itu tanpa ada yang berubah.
Oleh karena itu, aku menutup mataku, dan dengan tenangnya, aku menunggu kematianku di dalam kekosongan ini.
Dan dengan ini, semua berakhir.




“Apakah benar ini yang kamu inginkan?” entah kenapa suara itu dapat terdengar kepadaku yang mau mati ini.
Iya, memangnya kenapa kalau berakhir seperti ini?
“Enggak apa-apa kok. Enggak apa-apa ... “
“Hanya saja kamu harus mengerti ... “
“Bahwa begitulah dunia itu bekerja. Yang menang hanyalah yang kuat, yang banyaklah yang menang, dan yang statusnya tinggilah yang dihormat dan dipuja. Itu adalah hal yag tanpa diberitahu atau dikatakanpun , kamu akan mengerti sendiri dan merasakannya ... “


“Rasanya sakitkan? Berapa di paling bawah itu. Tidak menyenangkan ya? Tidak memiliki semua itu. Aku juga mengerti kok perasaan itu.”


“Tapi ... apa karena itu kamu menyerah. Kamu mengakhiri hidupmu itu karena alasan ini?”
“Karena itu, karena itulah, aku berada didekatmu, dan selalu bersamamu Silt ...“
BAK!!!! Saat itu pukulan yang harusnya mengarah ke kepalaku, tidak tahu kenapa mengenai tepat di sampingku.
“Nah, ayo Silt. Mau sampai kapan kamu disitu terus?”
“Ayo, Genggam tanganku. Kamu pasti bisa mengalahkannya Silt.”
Aku menggenggam tangannya. Meskipun aku tidak dapat menyentuhnya tapi entah kenapa aku masih bisa menggenggamnya seperti aku menggenggam tangan orang normal.
Setelah itu ...
“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!” Aku memukul monster itu dengan kepalan tangannku ini. Dan tentu saja monster itu tidak bergeming, lalu dia membalasnya dengan tangan kanannya yang berotot itu kepadaku.
Aku memukul bagian tangan kanan monster itu, dia lalu membantingnya ke bawah tanpa ada masalah. Lalu aku membalikkan badanku dan menendangkan kaki kiriku ke bagian bawah tubuh serigala itu yang tentu saja tidak ada yang berubah dari dirinya tersebut.
Tapi meskipun begitu aku tetap saja menyerang dia. Menyerang dia, dan terus menyerang dia. Tanpa peduli apa yang terjadi ke dalam diriku ini.
Meskipun aku tahu, bahwa semua hal itu sama sekali tidak terjadi.
Serigala itu sama sekali tidak terluka. Sedangkan aku sudah tidak berdaya dengan salah satu tanganku kebawah tidak dapat naik meskipun aku menyuruhnya untuk naik.
“Jadi pada akhirnya inilah akhirnya ya?” aku akhirnya mengucapkan hal-hal yang sering diucapkan karakter utama di akhir hayatnya.
Tapi sayang, aku itu bukanlah karakter utama. Jadi, mungkin ini adalah akhirnya kali ya?











Jangan bercanda!
Memangnya kamu pikir, aku akan berhenti begitu saja hanya karena ini?
Lalu aku kembali lagi menyerang dia dengan pukulanku tersebut. Pertarungan ronde kedua kembali dimulai.
Sampai akhirnya ...
Serigala tersebut ... masih sehat sehat saja. Sedangkan aku ... jangan tanya lagi aku bagaimana. Tubuhku sudah penuh darah, dan ajaibnya lagi aku masih bisa berdiri meskipun terdapat rasa sakit yang tidak tertahankan ketika aku berdiri disana.
Aku sudah tidak tahu aku harus berkata apa di saat ini. Mungkin serigala itu menganggapku lucu terhadap perilakuku ini. Aku tidak peduli. Dan aku tidak peduli.
Akan aku tunjukan kepadanya, dengan kekosongan dan semangat ini. Aku bisa memenangkan pertandingan yang dia anggap konyol ini.
Ada yang berubah dari perilaku serigala tersebut, beberapa detik setelah aku berdiam diri disini. Tubuhnya bergetar-getar, mata dia bergerak tidak tentu. Lalu dia mundur dengan ketakutan dari diriku.
BASSSSSSSSSS! Tubuh dia di bagian perut bagian atas mencrat secara tiba-tiba. Meninggalkan aku yang berdarah ini dihujani darah kembali. Lalu tubuh bagian bawah itu terjatuh dan darah keluar dari bagian yang hancur itu.
“Silt! Silt!” tiba-tiba saja suara Sinthia terdengar dari sampingku.
“Kamu lihat itu Silt! Lihat! Kamu berhasil loh mengalahkan monster tersebut! Tidakkah kamu hebat Silt!?” Sinthia benar-benar kegirangan sambil menunjukkan mayat serigala tersebut kepadaku.
Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Aku terjatuh dari berdiriku dan aku tidak sadarkan diri.
Saat itu, tidak tahu kenapa terdapat satu hal yang terbangun dari dalam diriku.
Dan tanpa semua orang sadari, satu hal ini... bisa mengubah seluruh dunia yang berada di sini.



Rabu, 25 November 2015

Ini hanyalah aku, dia dan dunia ini.

“Apa aku itu normal?”
Kadang-kadang pemikiran itu tiba-tiba muncul di pikiranku saat aku melihat sesuatu dengan mataku ini. Aku melihat orang marah karena ada sesuatu yang kesal baginya, kadang-kadang aku melihat orang sedih karena hartanya hilang.
Aku melihat mukaku ini di dinding samping dimana terdapat kaca menempel di dinding tersebut. Aku melihat diriku ini, mukaku ini juga, dan juga perilakuku yang sedang berada di depan laptopku itu...
Tidak ada hal yang aku bisa komentari tentang hal itu semua. Normal, bagiku semuanya tidak ada masalah sama sekali.
Tapi, tidak tahu kenapa, terkadang aku dimarahi orangtuaku dengan tatapan mukaku yang begini. Tidak itu aku bohong, sebenarnya aku tidak dimarahi sekali oleh orangtuaku kok.
Toh, pada akhirnya tidak ada hal yang harus dikatakan atau dibilang di keluarga ini kok. Ada ayahku, ada ibuku, ada kakakku juga, tetap saja semuanya begitu saja. Tidak ada pembicaraan hanya fokus pada barang yang akan memberinya kesenangan daripada pembicaraan tidak ada artinya.
Memang begitulah dunia bekerja kali ya? Mana kutahu. Aku bukan dunia.
Hanya untuk informasi kalian saja, sekarang ini aku sedang bermain laptop di kamar. Kamar biasa saja yang cuman ada kasur, meja, lemari dan juga cermin. Aku tidak harus memberitahu kalian dimana letak merekakan? Tentu saja salah satu dari mereka itu diletakkan di tengah-tengah ruangan. Tidak enak dipandang.
Tidak banyak hal yang aku lakukan di depan laptopku ini. Mengunjungi sebuah website, bermain game, menonton di yo*tube, dan ya hal-hal yang hampir kebanyakan membutuhkan internet untuk mengaksesnya. 
Yaps, begitulah. Kebanyakan hidupku, ah tidak itu terlalu lebai. Kebanyakan waktuku ini aku gunakan untuk bermain laptop tersebut. Untungnya sekarang itu libur akhir semester, jadi aku tidak perlu lagi khawatir tentang masalah Pr, pelajaran ataupun untuk melihat buku. Tapi, bukan berarti aku enggak suka belajar kok.
Lalu tidak lama kemudian aku beranjak dari tempat dudukku ini. Pada akhirnya tidak ada orang yang bisa satu hari penuh ini bertahan di kursi. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan diam, salah satunya adalah ke WC. Buang air sembarangan adalah hal yang buruk, karena sudah kotor, bau lagi.


Aku setelah itu menutup pintu WC tersebut. Aku bisa mendengar suara kucuran air dari dalam dan mengguyur membersihkan bekas buang air kecil tersebut. Kemudian, aku kembali ke kamarku, mengurus kembali urusan yang belum terselesaikan (dengan laptop).
“Jadi, mau sampai kapan kamu bermain laptop, Silt?” tanya seorang perempuan itu kepadaku yang sedang berjalan ini. Dia sedang berdiri menelentangkan badannya ke dinding yang berada di belakangnya, dengan muka setengah terbuka itu kepadaku.
Perempuan itu tidak lain adalah Sintha. Dia adalah seorang perempuan. Berambut panjang bewarna putih panjang sampai ke punggung, tidak lurus melainkan melengkung  seperti sabit. Rambut di mukanya tapi tidak sampai ke mata hanya saja arahnya tetap saja seperti sabit dan simetris yang daerah kiri melengkung ke kanan yang daerah kanan melengkung ke kiri. Dia memakai gaun yang membuat selangkangan dia terlihat, dan juga gaunnya itu menutupi dirinya sampai ke lutut.
“Tidak ada batas waktukan aku harus bermain berapa lama? Lagipula sedang apa kamu terlentang seperti itu?”
“Silt. Disini itu adalah ruang keluarga. Dan pasti kalau berbicara tentang ruang keluarga, selalu ada televisi di dalamnya. Jadi, ya aku sekarang menonton tv lah. Memangnya aku ngapain lagi?” aku melihat televisi yang berada di depanku ini sedang menayangkan tayangan yang aku tidak peduli sama sekali tentang hal itu.
Tapi desain rumah ini benar-benar unik ya. Untuk menuju kamarku saja aku harus melewati ruang keluarga dulu agar aku bisa ke sana. Eh? Kayaknya semua rumah juga kayak gitu lagi ya?
“Tunggu, kalau begitu kenapa kamu enggak duduk aja Sin? Buat apa ada kursi di depan tv. Jika pada akhirnya malah berdiri enggak jelas disana? Kalau kamu dudukkan aku tahu kalau kamu lagi nonton.”
“Yaampun Silt ... itulah kenapa, kalau kamu hanya memakai pemikiran biasa itu kamu tidak akan menjadi jenius Silt.”
“Dengar ya Silt. Ingat perkataanku baik-baik dari sekarang.”
“Ketika ada televisi menyala dan ada orang ada di sekitarnya. Berarti orang itu sudah pasti menonton televisi!!!!”
Brak! Aku menutup pintu kamarku dan aku kembali lagi ke tempatku semula. Ah ... padahal hanya beberapa menit saja, tapi rasanya itu. Tidak bisa diekspresikan.
Ya, tanpa banyak bicara lagi aku terhisap kembali kepada laptop tersebut. Kira-kira untuk sekarang ini apa yang harus aku lakukan ya?
Tak! Tak! Tak! Klik! Klik! Klik!
“Wah, akhirnya ada update untuk cerita ini? Sip! Sip! Simpan dulu.” “Oh, ada video terbaru dari channel ini. Mayan.” “Sial. Game ini. Kenapa susah banget sih ngalahinnya?” “Oh kalau itu kamu harusnya begini nih biar menang.”
Terkadang aku suka bergumam sendiri ketika aku berada di depan laptopku ini. Sebentar, kayaknya ada satu kalimat yang aku tidak bilang tadi.
“Kalau kamu maksud adalah kalimat terakhir. Itu memang aku kok yang bilang.” Sinthia tidak tahu kenapa berada di sampingku. Aku sempat terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Sinthia hanya tersenyum saja melihatku begini.
“... tapi tidak aku sangka Silth. Kamu dari dulu sampai sekarang masih suka bermain dengan laptop ya ... “ hihihi. Dia tertawa kecil melihatku disini.
“Kamu mengatakannya, seakan-akan kamu sudah tidak lama bertemu denganku ... “ Sinthia tidak membalas perkataanku. Dan aku kembali melanjutkan kembali terhadap laptopku ini.
“Tetapi, apa kamu tidak penasaran ... ?”
Tanganku berhenti.
“Tentang apa?”
“Tentang ... hm ... “ dia mengalihkan pandangannya dariku terus kembali lagi. “ Tentang penyebab kenapa sekarang banyak orang yang lebih suka berada di depan mesin daripada di depan manusia.”
“ ... topik itu menurutku menarik. Dan juga entah kenapa aku merasa terdapat unsur menyinggung dari kalimat itu. Tapi aku tidak begitu peduli.”
“Sayangnya Sinthia, kalau tentang itu aku sudah tahu jawabannya. Jadi hal itu sudahlah tidak menarik lagi bagiku.”
“ ... begitu. Lalu apa kamu akan memberitahukan jawabannya itu kepadaku?”
“Tidak.”
“Waw Silth. Sepuluh detik aja belum selesai itu. Apa sebegitu sukanya kamu sama laptop tersebut?”
“ ... tidak juga. Terkadang ada hal yang lebih baik tidak diketahui daripada diketahui. Dan ya ... sudahlah aku enggak tahu harus melanjutkan apa ... “ aku kembali menggerakan tanganku untuk bermain laptop. Sedangkan Sinthia hanya melihatku dengan tersenyum.
Hingga ... perutku berbunyi.
“Pada akhirnya hal lapar adalah hal yang tidak bisa disembunyikan ya.” Komen Sinthia dengan mata setengah terbuka.


Aku pernah membaca suatu kisah. Kisah tentang suatu legenda. Dimana perempuan ditemukan di dalam sebuah bambu. Perempuan itu akhirnya diadopsi oleh kedua orang tuanya dan dia hidup senang bersama mereka disana. Namun perempuan itu adalah orang bulan. Akhirnya dia dipulangkan kembali oleh orang-orang dari bulan, meskipun sebenarnya dia masih ingin berada di bumi tersebut.
Apakah perempuan itu sekarang masih berada di bulan?
“Tentu saja enggak. Namanya juga kisah. Pasti hal itu tidak nyata lah.”
“Tolong jangan hancurkan fantasiku oleh kenyataan yang menyedihkan.”
“Hahaha.” Dia tertawa, tapi setelah itu dia terdiam tersenyum.
“Lagipula Silt, kalau seandainya itu nyata ... pasti itu adalah hal yang bagus bukan?” entah kenapa pada saat dia mengatakan itu nada bicaranya agak berbeda dari biasanya. Dalam arah kesedihan kalau menurutku yang mendengar.
“Lagipula, aku kira aku akan makan makanan rumah. Tahunya malah makanan bungkusan di toko serba ada.” Sinthia menghadap ke kantong plastik yang aku bawa ini. Lalu muka dia menyeringai, seakan-akan berkata “Tahunya malah gini ... “
“Namanya juga Silt ya. Dari dulu sampai sekarang masih saja seperti ini ya!!” dia kemudian berjalan beberapa langkah dariku, kemudian dia membalikkan badannya. Menunggu aku yang tidak jauh berada di di dirinya.
“Huh.” Tidak banyak hal yang harus aku katakan terhadap hal ini. Semua ini adalah adegan normal yang selalu saja aku jalani setiap harinya.
Ya, seharusnya sih begitu ceritanya.
Sayangnya adegan normal yang biasa aku jalani itu berubah. Ketika sebuah truk besar berkecepatan tinggi itu datang dan menerjang dirinya. Tanpa dapat aku melakukan sesuatu untuk dia.
Aku tidak bisa menggerakan tubuhku dari tempat tersebut. Perkataanku tidak bisa aku keluarkan dari dalam mulutku. Kesal, sedih, takut, semua ekspresi itu tidak dapat menggambarkan ekspresiku sekarang.
Kosong. Kosong, sangat kosong. Tidak berekspresi, tidak berprasaan. Tidak ada hasrat. Itulah yang menggambarkanku sekarang.
“Silth ... “
Namun perempuan itu, perempuan yang tertabrak tadi itu. Perempuan yang bernama Sinthia itu berdiri di depanku. Senyumannya yang manis itu sekarang terdapat rasa kesedihan yang entah kenapa dapat aku rasakan tanpa dia berkata.
Aku tahu.
Aku mengerti apa yang terjadi di depanku ini. Kenapa dia dapat berada di sampingku saat dikamarku tanpa diketahui dan juga kenapa dia sekarang bisa berdiri ... , salah, melayang seperti ini.
Karena dia tidak lain adalah ilusiku. Hal yang tidak nyata, hal yang hanya bisa dilihat oleh aku sajalah.
“Silth ... “ Silia datang kepadaku. Dia mencoba untuk menyentuh kepalaku. Namun sayang tangannya yang halus itu hanya menembus kepalaku yang bagiku aku tidak dapat merasakan apa-apa.
Dan setelah itu aku mendengar mesin mobil. Saat aku mencari dimana sumber itu. Ternyata sumber itu berada di depanku.
Kemudian kesadaranku hilang.
Apakah cerita ini selesai? Tidak.
Justru cerita yang tidak menyenangkan ini baru saja dimulai. Karena pada akhirnya bukannya dunia begitu?