Chapter 1 : Permulaan dari
dunia paralel.
Halo semuanya.
Ini aku. Aku si manusia
nyasar yang terdampar di dunia paralel. Bukan orang jepang sayangnya.
Melainkan...
Aku hanyalah orang luar
negeri biasa yang sempat hidup di dunia modern.
Well,
Kayaknya aku lupa memperkenalkan
diriku ya.
Perkenalkan, namaku adalah
Namal. Aku adalah seorang murid SMA kelas tiga. Yang sebentar lagi itu akan
mengalami yang namanya undangan, ataupun juga ujian nasional.
Tapi, sayang aku pikir
kalimat sebelumnya itu sepertinya tidak akan pernah aku lakukan.
Karena dan tentu saja aku
berada di dunia paralel. Dunia dimana sihir, pedang dan juga monster ada.
Dunia dimana hal yang tidak
mungkin menjadi mungkin.
Dunia dimana menjadi cerita
ngetrend di jepang saat ini ...
Ya begitulah ...
Anggap saja tadi itu adalah
pemanasan. Karena aku baru saja terbangun dari pingsanku tadi. Mungkin karena
aku tadi bertarung dan juga terluka di bagian kakiku tersebut. Kelelahan mungkin penyebabnya.
Aw... aku menggerakan kakiku
dan aku merasakan rasa sakit dari kaki tersebut.
Namun ketika melihat kakiku
yang terluka tersebut. Ada hal yang tidak biasa terjadi disana.
Karena kakiku yang harusnya
terluka cukup dalam itu sekarang sembuh. Sembuhnya memang tidak seperti sembuh
yang benar-benar sempurna, tapi sembuhnya itu paling tidak membuat lubang yang
bisa mengeluarkan darah seperti tadi.
“Waw...” aku benar-benar
tidak menyangka kalau ini akan sembuh. Melihat bekas luka yang tertutup warna
merah di kakiku ini. Memang tidak kelihatan seperti luka kecil yang akhirnya
keluar kulit warna kehitaman, tapi ini benar-benar merah seperti darah.
Apakah mungkin luka sebesar
itu dapat sembuh dan juga jadi begini!?
Apa jangan-jangan ini adalah
kemampuan cheatku di dunia isekai.
Lagipula daripada itu,
bukannya aku bisa mengakses menu dan juga melihat statusku sekarang?
Tidak ada respon yang
terjadi ketika aku berkata itu.
“Terima kasih dunia atas
jawabannya.” I mean ... apa lagi yang harus aku katakan?
Aku mencoba berdiri. Dan
sudah kuduga, terdapat rasa sakit yang terjadi ketika kakiku masih bergerak.
Rupanya aku belum sepenuhnya sembuh disini.
Tapi, aku tidak begitu
mempedulikan itu dan kembali menjelajah di hutan ini. Sambil menjelajah aku
mencoba berbagai macam hal agar menu status yang seperti game itu akan keluar
dari diriku. Seperti mengucapkannya dalam hati, membayangkan menunya seperti
apa ...
Nihil. Aku udah enggak mau
komentar apa-apa lagi tentang itu. Sudah muak.
Tidak lama kemudian, kabar
baik datang kepadaku.
Aku menemukan sungai jernih
mengalir di sini. Sungai ini berada di antara hutan yang satu dengan hutan yang
lain, sehingga sungai ini dapat disinari cahaya matahari. Disekitar sungai itu
juga banyak batu berbentuk bulat yang ukurannya sekitar satu telapak tangan
manusia.
Aku senang. Karena pada
akhirnya aku bisa mengisi rasa hausku ini dengan air yang benar-benar bisa
diminum.
Masalah makan ... hahaha.
Aku masih belum bisa menemukan makanan yang bisa dimakan disini.
Disaat aku mau mengambil air
di sungai yang mengalir itu, aku melihat seekor rusa merangkak ke mulut sungai.
Lalu dia menjulurkan lidahnya untuk meminum air tersebut.
Air itu dia minum, satu
teguk dua teguk masuk ke dalam tenggorokannya. Setelah itu rusa tersebut
mengangkat kepalanya dan terdiam.
Aku kira diam itu karena dia
sudah puas minum air. Nyatanya bukan.
Rusai itu lalu tergeletak di
bebatuan sungai itu dan tidak bergerak lagi. Setelah itu rusa tubuh rusa itu
hancur berkeping-keping mengeluarkan darah.
Aku, salah satu makhluk yang
akan menjadi korban yang sama, memutuskan untuk tidak akan menjadi korban yang
di depan mataku ini.
Setelah itu aku kembali
memasuki hutan dan mencari lagi sesuatu yang bisa membantuku sekarang.
Nihil sedihnya. Meskipun aku
menemukan tumbuhan yang ada buah, jamur, dan hewan. Aku tidak dapat memakannya
sama sekali.
Karena aku tidak tahu, buah
apa, jamur apa, dan juga hewan apa yang berada di sana. Karena kejadian di
sungai tadi itu. Aku tidak tahu apa aku harus memakan hal tersebut atau tidak.
Jadi aku akan terus
berjalan, berjalan dan berjalan. Berharap aku akan menemukan sebuah desa yang
akan memberikan pertolongan kepadaku ini.
Sayangnya, bukannya
pertolongan ataupun makanan yang aku dapat. Penderitaan dan kesengsaraanlah
yang aku terima.
Monster, berbagai jenis
monster berada di hutan ini. Lalu saat mereka melihatku, mereka mengejarku
dengan tatapannya yang penuh dengan membunuh.
Aku pernah melawan
monster-monster yang sempat bertemu denganku. Simpanse berukuran seperti truk,
rubah berekor empat, dan juga serigala yang sempat tadi aku bunuh, aku sempat
melawan mereka.
Tapi, anehnya aku tidak
dapat mengalahkan ataupun juga melukai makhluk tersebut. Termasuk serigala yang
pernah aku bunuh sebelumnya. Yang ada hanyalah dihajar habis-habisan layaknya
sarung tinju.
Dan tentu saja menimbulkan
banyak luka yang berada di diriku ini. Anehnya luka itu tidaklah sembuh seperti
kakiku tadi.
“Hah ... “ aku
menelentangkan tubuhku di pohon ini. Aku sudah tidak tahu berapa lama yang terjadi,
tapi sekarang tetap saja aku lelah.
Aku tidak akan mengeluh
terhadap keadaanku sekarang.
Aku tidak akan mengeluh
terhadap luka yang banyak ini.
Aku tidak akan mengeluh
terhadap panas yang aku alami sekarang ini.
Aku tidak akan mengeluh
terhadap penderitaan yang sekarang aku alami ini.
Ya, beginilah aku. Beginilah
diriku ini.
Dari dunia sana ataupun dari
dunia sini sepertinya aku akan sama seperti ini ya. Tidak begitu mempedulikan
apa yang terjadi sama diriku ataupun tidak pernah mengeluhkannya ya.
Kira-kira sejak kapan ya aku
menjadi begini?
Pada saat itu terbayang
suatu kenangan saat aku di dunia tersebut. Tapi aku malas membayangkan hal
tersebut. Enggak apa-apa kan?
Namun suasana sepi ini tak
bisa bertahan lama. Karena, monster itu, rubah berekor empat itu berada di
depanku. Melihatku sekarang dengan hasrat memakannya itu kepadaku.
Jadi, istirahat sebentarpun
juga tidak diberikan? Pikirku ketika rubah itu bergerak kepadaku.
Juga tubuhku sekarang
benar-benar panas sekarang ini. Saking panasnya sekarang aku tidak bisa kabur
dari rubah tersebut.
Jadi aku pikir, sekarang
benar-benar berakhir ya?
Hahaha. Rupanya perjalananku
benar-benar berakhir sekarang.
Hahahaha...
Hahaha...
Tidak! Memangnya kau pi-
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Bagian tanganku terbelah.
Tanganku terpotong dari bagian tubuhku dan tergeletak di tanah tanpa aku tidak
bisa berbuat apa-apa.
Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!?
Bukannya pada saat-saat begini itu aku akan bisa mengalahkan rubahitu tanpa
harus kehilangan tanganku? Kenapa malah begini!?
Rubah itu lalu mengambil
tanganku lalu memakan tanganku tersebut. Di depan mataku.
Dia memakan tanganku itu
dengan lahap. Dia memakan tanganku dengan tangannya yang mempunyai cakar itu.
Dia memakan tanganku sambil
dia menikmati diriku yang menderita ini.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Dia mempermainkanku. Dia
mempermainkanku. Dia dengan menyebalkannya mempermainkan diriku yang tidak bisa
apa-apa ini.
Aku mencoba untuk bergerak.
Tapi, aku tidak bisa, panas yang berada di tubuhku ini tidak tahu kenapa tidak
bisa membuatku bergerak.
Rubah itu hanya memakan
tanganku, yang sekarang banyak darah keluar dari mulutnya.
Dia tidak menyisakan daging
itu sedikitpun, dia tidak mempedulikan darah yang keluar dari mulutnya.
Aku, kesadaranku, semakin
lama semakin menghilang, kalau begini... terus bisa-bisa ...
Aku...
Tidak akan bisa melihat
darah tersebut ...
... darah?
Darah? Kenapa aku berpikir
darah disaat seperti ini!? Apa karena aku kekurangan darahkah sekarang ini!?
Serigala itu juga tidak
mempedulikan darah yang keluar dari tubuhku itu.
Apakah serigala tidak
mempunyai darah? Bukannya hewan mempunyai darah?
Lagipula melihat tubuhnya
yang banyak itu bukannya banyak darah?
Darah. Darah. Darah. Darah.
Darah. Darah. Darah. Darah.
Rasanya menyenangkan sekali
ya, jika banyak darah terlihat di pikiranku ini.
Rasanya lezat kali ya jika
darah itu masuk ke dalam tenggorokanku itu.
Bukannya lezat sekali
memakan daging yang juga ada darah di dalamnya?
Pada saat itu entah kenapa
semua hal yang berhubungan dengan darah masuk ke dalam kepalaku. Baik dari
kelihatannya, bentuknya, dan juga cara mengendalikan darah tersebut.
Rubah itu langsung aku
serang tanpa ragu lagi. Aku langsung menggunakan darah yang berada di tanah
lalu aku ubah darah itu seperti air dan melemparkannya ke mata rubah tersebut.
Rubah itu tidak menyangka
kalau darahnya itu akan mengenai matanya dan dia mengelap matanya untuk bisa
melihat lagi. Tapi pada saat dia bisa melihat, yang ada hanyalah darah yang
berbentuk seperti tombak yang langsung menancap ke kedua matanya tanpa ampun.
Rubah itu meronta karena
kedua matanya terluka, tapi itu tidak selesai, karena aku membuat lagi tombak
yang terbuat dari darah yang aku bekukan dengan keras. Yang saking kerasnya itu
dapat menembus rubah itu sekali lagi seperti tadi.
Tidak berhenti lagi, aku
membuat cakar dari darah dan mencakar bagian depan rubah tersebut. Setelah itu
aku membuat pedang dengan jenis sama dan aku arahkan itu kepada rubah yang
tidak berdaya.
Dan itu terus aku lakukan
sampai akhirnya dia tidak berdaya. Tapi, aku pikir tidak berdaya itu tidak
benar, karena sekarang rubah itu telah mati. Dengan tubuh yang berceceran dan
juga darah yang keluar banyak.
Tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku lalu meminum darahnya dan memakan daging tersebut.
Pada saat itulah aku
menyadari apa cheat yang aku punya. Dan
saat itu juga, aku bisa menikmati makanan pertamaku di dunia paralel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar