Selasa, 05 Januari 2016

Aku bukanlah orang jepang. Anehnya aku terjebak di dunia paralel. (1)

Chapter 1 : Permulaan dari dunia paralel.
Halo semuanya.
Ini aku. Aku si manusia nyasar yang terdampar di dunia paralel. Bukan orang jepang sayangnya.
Melainkan...
Aku hanyalah orang luar negeri biasa yang sempat hidup di dunia modern.
Well,
Kayaknya aku lupa memperkenalkan diriku ya.
Perkenalkan, namaku adalah Namal. Aku adalah seorang murid SMA kelas tiga. Yang sebentar lagi itu akan mengalami yang namanya undangan, ataupun juga ujian nasional.
Tapi, sayang aku pikir kalimat sebelumnya itu sepertinya tidak akan pernah aku lakukan.
Karena dan tentu saja aku berada di dunia paralel. Dunia dimana sihir, pedang dan juga monster ada.
Dunia dimana hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dunia dimana menjadi cerita ngetrend di jepang saat ini ...
Ya begitulah ...
Anggap saja tadi itu adalah pemanasan. Karena aku baru saja terbangun dari pingsanku tadi. Mungkin karena aku tadi bertarung dan juga terluka di bagian kakiku tersebut.  Kelelahan mungkin penyebabnya.
Aw... aku menggerakan kakiku dan aku merasakan rasa sakit dari kaki tersebut.
Namun ketika melihat kakiku yang terluka tersebut. Ada hal yang tidak biasa terjadi disana.
Karena kakiku yang harusnya terluka cukup dalam itu sekarang sembuh. Sembuhnya memang tidak seperti sembuh yang benar-benar sempurna, tapi sembuhnya itu paling tidak membuat lubang yang bisa mengeluarkan darah seperti tadi.
“Waw...” aku benar-benar tidak menyangka kalau ini akan sembuh. Melihat bekas luka yang tertutup warna merah di kakiku ini. Memang tidak kelihatan seperti luka kecil yang akhirnya keluar kulit warna kehitaman, tapi ini benar-benar merah seperti darah.
Apakah mungkin luka sebesar itu dapat sembuh dan juga jadi begini!?
Apa jangan-jangan ini adalah kemampuan cheatku di dunia isekai.
Lagipula daripada itu, bukannya aku bisa mengakses menu dan juga melihat statusku sekarang?
Tidak ada respon yang terjadi ketika aku berkata itu.
“Terima kasih dunia atas jawabannya.” I mean ... apa lagi yang harus aku katakan?
Aku mencoba berdiri. Dan sudah kuduga, terdapat rasa sakit yang terjadi ketika kakiku masih bergerak. Rupanya aku belum sepenuhnya sembuh disini.
Tapi, aku tidak begitu mempedulikan itu dan kembali menjelajah di hutan ini. Sambil menjelajah aku mencoba berbagai macam hal agar menu status yang seperti game itu akan keluar dari diriku. Seperti mengucapkannya dalam hati, membayangkan menunya seperti apa ...
Nihil. Aku udah enggak mau komentar apa-apa lagi tentang itu. Sudah muak.
Tidak lama kemudian, kabar baik datang kepadaku.
Aku menemukan sungai jernih mengalir di sini. Sungai ini berada di antara hutan yang satu dengan hutan yang lain, sehingga sungai ini dapat disinari cahaya matahari. Disekitar sungai itu juga banyak batu berbentuk bulat yang ukurannya sekitar satu telapak tangan manusia.
Aku senang. Karena pada akhirnya aku bisa mengisi rasa hausku ini dengan air yang benar-benar bisa diminum.
Masalah makan ... hahaha. Aku masih belum bisa menemukan makanan yang bisa dimakan disini.
Disaat aku mau mengambil air di sungai yang mengalir itu, aku melihat seekor rusa merangkak ke mulut sungai. Lalu dia menjulurkan lidahnya untuk meminum air tersebut.
Air itu dia minum, satu teguk dua teguk masuk ke dalam tenggorokannya. Setelah itu rusa tersebut mengangkat kepalanya dan terdiam.
Aku kira diam itu karena dia sudah puas minum air. Nyatanya bukan.
Rusai itu lalu tergeletak di bebatuan sungai itu dan tidak bergerak lagi. Setelah itu rusa tubuh rusa itu hancur berkeping-keping mengeluarkan darah.
Aku, salah satu makhluk yang akan menjadi korban yang sama, memutuskan untuk tidak akan menjadi korban yang di depan mataku ini.
Setelah itu aku kembali memasuki hutan dan mencari lagi sesuatu yang bisa membantuku sekarang.
Nihil sedihnya. Meskipun aku menemukan tumbuhan yang ada buah, jamur, dan hewan. Aku tidak dapat memakannya sama sekali.
Karena aku tidak tahu, buah apa, jamur apa, dan juga hewan apa yang berada di sana. Karena kejadian di sungai tadi itu. Aku tidak tahu apa aku harus memakan hal tersebut atau tidak.
Jadi aku akan terus berjalan, berjalan dan berjalan. Berharap aku akan menemukan sebuah desa yang akan memberikan pertolongan kepadaku ini.
Sayangnya, bukannya pertolongan ataupun makanan yang aku dapat. Penderitaan dan kesengsaraanlah yang aku terima.
Monster, berbagai jenis monster berada di hutan ini. Lalu saat mereka melihatku, mereka mengejarku dengan tatapannya yang penuh dengan membunuh.
Aku pernah melawan monster-monster yang sempat bertemu denganku. Simpanse berukuran seperti truk, rubah berekor empat, dan juga serigala yang sempat tadi aku bunuh, aku sempat melawan mereka.
Tapi, anehnya aku tidak dapat mengalahkan ataupun juga melukai makhluk tersebut. Termasuk serigala yang pernah aku bunuh sebelumnya. Yang ada hanyalah dihajar habis-habisan layaknya sarung tinju.
Dan tentu saja menimbulkan banyak luka yang berada di diriku ini. Anehnya luka itu tidaklah sembuh seperti kakiku tadi.
“Hah ... “ aku menelentangkan tubuhku di pohon ini. Aku sudah tidak tahu berapa lama yang terjadi, tapi sekarang tetap saja aku lelah.
Aku tidak akan mengeluh terhadap keadaanku sekarang.
Aku tidak akan mengeluh terhadap luka yang banyak ini.
Aku tidak akan mengeluh terhadap panas yang aku alami sekarang ini.
Aku tidak akan mengeluh terhadap penderitaan yang sekarang aku alami ini.
Ya, beginilah aku. Beginilah diriku ini.
Dari dunia sana ataupun dari dunia sini sepertinya aku akan sama seperti ini ya. Tidak begitu mempedulikan apa yang terjadi sama diriku ataupun tidak pernah mengeluhkannya ya.
Kira-kira sejak kapan ya aku menjadi begini?
Pada saat itu terbayang suatu kenangan saat aku di dunia tersebut. Tapi aku malas membayangkan hal tersebut. Enggak apa-apa kan?
Namun suasana sepi ini tak bisa bertahan lama. Karena, monster itu, rubah berekor empat itu berada di depanku. Melihatku sekarang dengan hasrat memakannya itu kepadaku.
Jadi, istirahat sebentarpun juga tidak diberikan? Pikirku ketika rubah itu bergerak kepadaku.
Juga tubuhku sekarang benar-benar panas sekarang ini. Saking panasnya sekarang aku tidak bisa kabur dari rubah tersebut.
Jadi aku pikir, sekarang benar-benar berakhir ya?
Hahaha. Rupanya perjalananku benar-benar berakhir sekarang.
Hahahaha...
Hahaha...
Tidak! Memangnya kau pi-
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Bagian tanganku terbelah. Tanganku terpotong dari bagian tubuhku dan tergeletak di tanah tanpa aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!? Bukannya pada saat-saat begini itu aku akan bisa mengalahkan rubahitu tanpa harus kehilangan tanganku? Kenapa malah begini!?
Rubah itu lalu mengambil tanganku lalu memakan tanganku tersebut. Di depan mataku.
Dia memakan tanganku itu dengan lahap. Dia memakan tanganku dengan tangannya yang mempunyai cakar itu.
Dia memakan tanganku sambil dia menikmati diriku yang menderita ini.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Dia mempermainkanku. Dia mempermainkanku. Dia dengan menyebalkannya mempermainkan diriku yang tidak bisa apa-apa ini.
Aku mencoba untuk bergerak. Tapi, aku tidak bisa, panas yang berada di tubuhku ini tidak tahu kenapa tidak bisa membuatku bergerak.
Rubah itu hanya memakan tanganku, yang sekarang banyak darah keluar dari mulutnya.
Dia tidak menyisakan daging itu sedikitpun, dia tidak mempedulikan darah yang keluar dari mulutnya.
Aku, kesadaranku, semakin lama semakin menghilang, kalau begini... terus bisa-bisa ...
Aku...
Tidak akan bisa melihat darah tersebut ...
... darah?
Darah? Kenapa aku berpikir darah disaat seperti ini!? Apa karena aku kekurangan darahkah sekarang ini!?
Serigala itu juga tidak mempedulikan darah yang keluar dari tubuhku itu.
Apakah serigala tidak mempunyai darah? Bukannya hewan mempunyai darah?
Lagipula melihat tubuhnya yang banyak itu bukannya banyak darah?
Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah. Darah.
Rasanya menyenangkan sekali ya, jika banyak darah terlihat di pikiranku ini.
Rasanya lezat kali ya jika darah itu masuk ke dalam tenggorokanku itu.
Bukannya lezat sekali memakan daging yang juga ada darah di dalamnya?
Pada saat itu entah kenapa semua hal yang berhubungan dengan darah masuk ke dalam kepalaku. Baik dari kelihatannya, bentuknya, dan juga cara mengendalikan darah tersebut.
Rubah itu langsung aku serang tanpa ragu lagi. Aku langsung menggunakan darah yang berada di tanah lalu aku ubah darah itu seperti air dan melemparkannya ke mata rubah tersebut.
Rubah itu tidak menyangka kalau darahnya itu akan mengenai matanya dan dia mengelap matanya untuk bisa melihat lagi. Tapi pada saat dia bisa melihat, yang ada hanyalah darah yang berbentuk seperti tombak yang langsung menancap ke kedua matanya tanpa ampun.
Rubah itu meronta karena kedua matanya terluka, tapi itu tidak selesai, karena aku membuat lagi tombak yang terbuat dari darah yang aku bekukan dengan keras. Yang saking kerasnya itu dapat menembus rubah itu sekali lagi seperti tadi.
Tidak berhenti lagi, aku membuat cakar dari darah dan mencakar bagian depan rubah tersebut. Setelah itu aku membuat pedang dengan jenis sama dan aku arahkan itu kepada rubah yang tidak berdaya.
Dan itu terus aku lakukan sampai akhirnya dia tidak berdaya. Tapi, aku pikir tidak berdaya itu tidak benar, karena sekarang rubah itu telah mati. Dengan tubuh yang berceceran dan juga darah yang keluar banyak.
Tanpa berkata apa-apa lagi. Aku lalu meminum darahnya dan memakan daging tersebut.

Pada saat itulah aku menyadari  apa cheat yang aku punya. Dan saat itu juga, aku bisa menikmati makanan pertamaku di dunia paralel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar