Um....
Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya...
Tapi... entah kenapa sekarang ...
Aku berada di dunia paralel sekarang. Dimana sekarang aku
ini sedang berada di daerah hutan yang tidak kenal dan entah berantah.
Aku padahal bukanlah
orang jepang. Tapi aku berada di dunia paralel sekarang.
Karangan :
Qaniturrazan
(C)opyright
Qaniturrazan.
Aku mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi saat
itu.
Saat itu aku sedang bermain laptop di dalam kamarku dengan
tenang. Menikmati hari liburku yang panjang selama dua minggu, padahal beberapa
bulan lagi Ujian nasional.
Tiba-tiba saja ... meteor jatuh ke rumahku dan aku tiba
disini.
Kalimat terakhir itu aku ngarang. Jangan percaya sama kataku
tadi.
Sebenarnya sih aku enggak tahu kejadian yang terjadi setelah
itu. Tahu-tahunya sekarang aku berada di sini. Di dunia paralel ini.
Kenapa aku tahu ini dunia paralel?
Jawabannya simpel, karena di dunia modern yang aku tempati
sebelumnya itu. Tidak ada monster yang berada di sampingku ini.
Seekor serigala yang bertaring tajam, mempunyai tanduk rusa
dan ekornya dua. Dengan ganasnya mengamatiku dengan tatapan wajahnya itu.
Really? Seberapa ancurnya sih gen yang kamu punya itu?
Sudahmah tampang buruk, kuat, hidup lagi. Pikirku yang sekarang lari-larian
setengah mati dikerjar serigala tersebut.
Tidakkah tidak adil diawal-awal aku datang ini aku sedang
langsung disiksa sama monster tersebut?
Padahal belum ada status, senjata, atau bahkan perempuan
cantik yang mempunyai rasa cinta kepada karakter utama.
“AAAAAAAAAAAAAAA!!” serigala itu malah menggigit kakiku. Dan
aku si bocah rumah ini tak bisa menahan rasa sakit taringnya yang tajam
tersebut.
Lalu aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sementara
serigala itu masih menyebalkannya menggigit diriku ini.
Aku mencoba untuk berteriak meminta pertolongan kepada
orang.
Tapi tidak ada yang menjawab.
Aku mencoba untuk menggerakan kakiku dan menariknya dari aku
yang terlentang ini. Malah semakin semakit. Tapi kalau dipikir-pikir, cara yang
tolol karena bisa saja itu malah membuat kulit kakiku semakin robek.
Aku mencoba untuk bertanya kepada langit tua.
Tapi langit tidak menjawab.
Bukannya itu salah satu lirik dari lagu yang aku dengar?
... tapi kalau dipikir-pikir rupanya keadaanku ini cukup
berbahaya ya? Kalau si serigala ini terus mengigitku seperti ini bisa-bisa aku
mati konyol di tempat ini.
Juga bukannya serigala itu bodoh ya? Kalau aku jadi dia sih
aku tidak akan menggigit dari satu kaki saja, paling tidak aku akan menggigit
dari tempat lain sampai dia mati, atau paling tidak memanggil teman-temannya
untuk membunuhku disini.
Kenapa aku malah ngasih saran saat mau mati begini?
Uh... gara-gara hal yang berguna ini kesadaranku semakin
memudar saja ...
Sial ... sepertinya mati konyol itu sudah bukan impian lagi
...
Sepertinya aku akan mati ....
Ibu, ayah, dan juga saudara laki-lakiku, yang semuanya itu
tidak mempedulikanku ...
Selamat tinggal ... aku harap kalian semua baik-baik saja
tanpa aku.
...
ENGGAK!
Memangnya kamu pikir aku akan mati begitu saja karena aku
enggak punya kekuatan hah?
Memangnya aku ini adalah karakter utama yang punya kemampuan
licik setelah reinkarnasi gitu!?
Cheat! Atau apa itulah namanya aku tidak butuh yang namanya
hal itu.
Selama aku masih hidup, tentu saja aku akan terus hidup.
Karena hidupku ini bukanlah sistem, skill, hp, atau apalah
yang berhubungan dengan game.
Aku beranjak dari terbaringanku ini. Meskipun aku
kesadaranku sudah mulai kabur, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan
sesuatu terhadap diriku ini.
BANG! Aku meng-chop-kan bagian atas serigala tersebut.
Serigala itu tetap saja mengigitku. Aku mencoba menonjok bagian atasnya sekuat
tenaga. Namun tetap saja tidak ada efeknya.
Tapi, aku tidak berhenti setelah itu. Aku mencoba memukulnya
lagi, menonjoknya lagi, dan lagi lagi lagi. Terus terus terus dan terus aku
lakukan tanpa berhenti.
Gigitan serigala itu juga
semakin lama semakin kuat. Tetapi, aku tidak peduli. Meskipun tanganku ini
memar dan terluka aku tidak peduli.
Karena ... beginilah wujudku yang sebenarnya kali ya.
Aku tidak tahu berapa lama
waktu telah berlalu setelah itu.
Tetapi, pada akhirnya aku
berhasil mengalahkan serigala tersebut.
Telapakku yang memegang batu
yang berdarah ini berhenti bergerak. Lalu serigala yang mati itu tergeletak,
mulutnyapun terbuka lebar sehingga aku bisa melepaskan kakiku tersebut.
Sepertinya aku beruntung
mendapat batu ini. Tapi dadah, aku tidak membutuhkanmu.
Brak! Batu itu menancap di
tanah.
Aku melihat kakiku yang
tergigit, dan ya ... parah Aku tidak tahu harus berkomentar apa.
Padahal baru awal
kedatanganku di sini, tapi sudah menderita seperti ini!?
Oh well, apa boleh buat. Aku
pikir kehidupan ini masih harus berlanjut seperti biasa.
Prolog : End.
Berlanjut ke Arc 1 : Dunia paralel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar