Selasa, 29 Desember 2015

Rasanya aneh jika diterimanya suatu cerita itu dari dua paragraph saja (Prolog)

Prolog.
Itulah komentarku ketika aku sedang bermain laptop. Saat itu aku  melihat sebuah artikel yang mengatakan kalau editor itu menilai cerita persis seperti yang aku katakan diatas.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh editor ketika menerapkan sistem itu kepada cerita yang lainnya? Apakah karena terlalu banyak cerita sehingga menggunakan cerita yang aneh seperti itu? Apakah karena emang seluruh cerita bisa dilihat dari dua paragrahp saja?
Aaaa
Aku tidak peduli sih. Toh, seberapa banyak aku berpikir tentang itu. Tidak akan ada satupun yang berubah kok di dunia ini.
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
“Ya sudahlah.” Aku lalu menutup website yang berisi artikel tersebut. Lalu mencari website yang lain, seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi. Tapi kalau aku mengatakan itu rasanya aku itu terlihat kejam ya. Well,
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
Ya, beginilah kehidupanku akhir-akhir ini. Hanya bermain laptop dan berdiam di rumah.
Ujian akhir semester telah berakhir. Pembelajaranpun tentu saja tidak optimal dari seharusnya. Sehingga banyak murid-murid malas datang ke sekolah. Paling juga kalau datang untuk nanya “Ibu saya nilainya berapa?” “Jangan diturunin dong bu nilainya!” ya biasalah masih anak SMA.
Aku juga masih anak SMA sih. Anak SMA kelas 3 semester satu yang mau menuju semester dua. Yang di antara kedua semester itu terdapat libur akhir tahun yang tinggal beberapa hari lagi dari hari sekarang.
Toh, akhir tahun awal tahun tengah tahun, hari-hari tetap saja sama seperti biasanya. Aku enggak mengerti kenapa semua orang harus merayakan akhir tahun yang tidak ada bedanya sama hari-hari biasa.
Ya sudahlah. Toh, melakukan itu juga tidak akan mengurangi umur mereka kok.
Well, paling tidak sekarang berkat adanya akhir tahun itu, terdapat hari libur. Yang hari liburnya itu bisa digunakan untukku untuk istirahat.
Istirahat yang aku maksud itu tidak lain adalah berada di rumah bermain dengan teknologi dari pagi sampai malam. Istirahat yang tidak membutuhkan sosial ataupun teman dalam melakukannya. Istirahat yang kelakuannya itu mirip seorang NEET atau bisa dibilang sampah masyarakat.
Well, jadi ya... sekarang aku sedang bermain laptop seperti yang dikatakan tadi. Browsing, bermain game, ataupun menonton video di youtube. Itulah yang aku lakukan sehari-hari demi mengisi waktu liburku ini.
Tidak lama kemudian, aku beranjak dari kursiku ini. Kemudian aku keluar dari kamarku dan ke ruang tengah rumah ini.
Aku melihat ruang tengahku ini.
Ruang tengah ini adalah ruang keluarga. Terdapat meja di tengah, dengan kursi mengelilinginya. Yang dipojok dari ruangan selalu ada televisi yang menghadap kursi. Benar-benar tempat yang sederhana dan juga kosong tidak ada isinya.
“Sudah berapa lama ya, ruangan ini kosong seperti ini?” gumamku meninggalkan ruang tengah ini. Lalu kemudian aku ke dapur yang berada di belakang ruang tengah.
Aku membuka pintu kulkas yang berada di dapur. Isinya itu adalah es batu, plastik kosong, dan juga tempat telur yang tidak ada telurnya. Secara literatur, kulkas itu memang ada isinya, tapi secara perut kulkas itu tidak memiliki sesuatu yang dapat dicerna oleh perutku ini.
Menyadari kulkas yang begini, mau tidak mau aku harus pergi untuk belanja. Bukan karena ada niat untuk mengisi kulkas itu penuh, tapi emang ingin makan sesuatu untuk perutku ini.
Aku lalu keluar dari rumahku ini. Mengecek kembali uang yang aku ambil di kamar berada di sakuku ini. Aku mengunci pintu rumah dan sambil membawanya menuju alfamart terdekat.
 Setelah membeli cukup banyak makanan di alfamart aku keluar dari ruangan dari alfmart tanpa bicara apa-apa.
Kemudian aku menghentakkan kakiku dan berjalan di trotoar ini.
Hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Enggak tahu kenapa aku berpikir seperti itu, apakah karena mobil yang jarang melewati inikah? Apakah karena jalan trotoar yang terlihat gelap inikah?
Ataukah mukaku yang beginikah yang menyebabkan hal tersebut?
“Rasanya aneh sekali. Untukku berpikir seperti tersebut ... “ aku tertawa kecil setelah berkata itu. Sekarang aku berada diperempatan jalan. Yang ketika diperempatan ini aku lurus aku akan menemukan rumahku yang berada di hutan belantara tersebut.
Tapi entah kenapa, aku tidak memilih jalan lurus tersebut. Entah kenapa aku malah memilih jalan berbelok itu.
Yang membuatku sekarang berada di sebuah padang rumput. Sebuah padang rumput yang tidak luas, berbentuk mirip persegi yang disekitarnya itu dikelilingi oleh pepohonan.
Memang. Memang tidak ada hal yang unik dari tempat ini selain karena banyaknya tumbuhannya. Namun ada satu keistimewaan dari tempat ini yang di tempat lain aku tidak bisa melakukannya.
Bulan.
Bulan yang bewarna putih itu aku bisa melihatnya dengan jelas dan juga tenang di tempat ini. Angin malam yang berhembus, rumput-rumput yang berserakan karena angin dan juga suasana sepinya di tempat ini ... tidak ada alasan untukku menolak berada di sini lama.
Aku duduk di rerumputan tersebut. Kemudian aku menggapai tanganku ke bulan nan jauh itu. Aku mencoba membayangkan kalau bulan itu bisa aku ambil di tanganku ini.
“Tapi kenyataannya tidak bisa. Tidak mungkin sebuah bulan bisa terambil oleh tangan biasa yang tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan ini ... “
Seandainya hal itupun terjadi, maka yang namanya kenyataan dan fakta pasti tidak akan ada.
“Apakah ... apakah hidupku akan begini sampai aku mati?”  Bulan itu tidak berkata apa-apa ketika aku berkata itu. Seakan-akan jawabannya itu, tanpa bulan mengatakanpun aku bakal tahu jawabannya.
Ya, bukankah memang begitu dunia ini?
Meskipun, meskipun aku punya permintaan keinginan atau juga hasrat ... pada akhirnya hal tersebut tidak bisa dikabulkan dunia ini.
Bukankah memang begitu dunia ini?
“Biasanya, kalau orang berpikir seperti itu. Pasti bakal ada sesuatu yang terjadi kalau ini bukanlah dunia nyata. Misalnya saja petir langsung datang kepadaku, atau enggak flashback satu panel di manga-manga ... “
Tentu saja hal itu tidak terjadi. Tapi aku enggak kaget sama sekali.
“Yap ... aku pikir sudah cukup aku melakukan hal enggak jelas disini. Sudah saatnya aku pulang ke rumah.”
Dan seperti itulah kisahku satu hari ini. Berakhir tanpa ada hal yang berarti ataupun berguna bagi siapapun juga.
“Menurutku tidaklah begitu, manusia. “ pada saat aku membalikkan badanku. Terdapat sesuatu yang melayang tidak tinggi di hadapan diriku.
Sesuatu itu tidaklah besar ataupun tidaklah kecil. Ukuran dia itu berbentuk seperti manusia. Tubuhnya juga sebenarnya berbentuk seperti manusia. Entah kenapa meskipun penampilannya itu mirip manusia, aku merasakan dia itu bukanlah manusia. Karena terdapat hal yang janggal yang membuat dia bukanlah termasuk manusia.
Seluruh tubuhnya tertutup oleh perban. Tidak hanya tangan, kaki dan badannya juga yang tertutup, badan, leher, bahkan telingapun tertutup sama perban seakan-akan dia adalah mumi.
Dia juga menggunakan headset, dan headphone sekaligus. Namun tidak menutup daun telinga belakangnya yang berisi perban itu.
Tidak hanya itu, dia juga menggunakan sebuah topeng. Sebuah topeng setengah bagiannya hitam, setengah bagiannya putih. Dimana di bagian putih itu terdapat mulut cemberut setengah dan mata hitam kesal , begitu juga bagian hitam terdapat mata polos dan juga mulut tersenyum.
Tapi semua itu tidaklah begitu menunjukan kalau dia itu berbeda dari manusia.
Karena yang paling membedakannya adalah auranya. Auranya yang penuh dengan ketidakjelasan itulah yang membuat dia bukan manusia. Takut, seram, misterius, perasaan itu bercampur aduk dan tidak bisa dijelaskan oleh perkataan.
“Aku kabulkan permintaanmu manusia.” Makhluk itu berbicara tanpa melepaskan topeng yang dipasangnya itu.
“Aku, yang bernama Netral ini. Akan mengabulkan hasratmu yang terdalam ... wahai manusia.”
"Tapi memangnya kau pikir aku akan memberikan semuanya begitu saja tanpa apa-apa huh!?”
“Tentu saja aku akan meminta gantinya. Ganti yang setara ataupun lebih besar daripada yang aku berikan itu."
"Oleh karena itu. Nikmatilah dulu saja yang aku berikan ini. Sebelum kamu tidak bisa menikmatinya lagi untuk selamanya. Huhuhu."
Pada saat itu aku sadar. Bahwa sekarang hal yang aku lalui itu akan berbeda dari yang biasanya. Aku tahu dan aku mengerti, bahwa hal seperti pertemanan, kesenangan, akan tidak berguna di saat kedepannya.
Karena ...

Bukankah dunia pada akhirnya begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar