Prolog.
Itulah komentarku ketika aku sedang bermain laptop. Saat itu
aku melihat sebuah artikel yang
mengatakan kalau editor itu menilai cerita persis seperti yang aku katakan
diatas.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh editor ketika menerapkan
sistem itu kepada cerita yang lainnya? Apakah karena terlalu banyak cerita
sehingga menggunakan cerita yang aneh seperti itu? Apakah karena emang seluruh
cerita bisa dilihat dari dua paragrahp saja?
Aaaa
Aku tidak peduli sih. Toh, seberapa banyak aku berpikir
tentang itu. Tidak akan ada satupun yang berubah kok di dunia ini.
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
“Ya sudahlah.” Aku lalu menutup website yang berisi artikel
tersebut. Lalu mencari website yang lain, seakan-akan hal itu tidak pernah
terjadi. Tapi kalau aku mengatakan itu rasanya aku itu terlihat kejam ya. Well,
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
Ya, beginilah kehidupanku akhir-akhir ini. Hanya bermain
laptop dan berdiam di rumah.
Ujian akhir semester telah berakhir. Pembelajaranpun tentu
saja tidak optimal dari seharusnya. Sehingga banyak murid-murid malas datang ke
sekolah. Paling juga kalau datang untuk nanya “Ibu saya nilainya berapa?”
“Jangan diturunin dong bu nilainya!” ya biasalah masih anak SMA.
Aku juga masih anak SMA sih. Anak SMA kelas 3 semester satu
yang mau menuju semester dua. Yang di antara kedua semester itu terdapat libur
akhir tahun yang tinggal beberapa hari lagi dari hari sekarang.
Toh, akhir tahun awal tahun tengah tahun, hari-hari tetap
saja sama seperti biasanya. Aku enggak mengerti kenapa semua orang harus
merayakan akhir tahun yang tidak ada bedanya sama hari-hari biasa.
Ya sudahlah. Toh, melakukan itu juga tidak akan mengurangi
umur mereka kok.
Well, paling tidak sekarang berkat adanya akhir tahun itu,
terdapat hari libur. Yang hari liburnya itu bisa digunakan untukku untuk
istirahat.
Istirahat yang aku maksud itu tidak lain adalah berada di
rumah bermain dengan teknologi dari pagi sampai malam. Istirahat yang tidak
membutuhkan sosial ataupun teman dalam melakukannya. Istirahat yang kelakuannya
itu mirip seorang NEET atau bisa dibilang sampah masyarakat.
Well, jadi ya... sekarang aku sedang bermain laptop seperti
yang dikatakan tadi. Browsing, bermain game, ataupun menonton video di youtube.
Itulah yang aku lakukan sehari-hari demi mengisi waktu liburku ini.
Tidak lama kemudian, aku beranjak dari kursiku ini. Kemudian
aku keluar dari kamarku dan ke ruang tengah rumah ini.
Aku melihat ruang tengahku ini.
Ruang tengah ini adalah ruang keluarga. Terdapat meja di
tengah, dengan kursi mengelilinginya. Yang dipojok dari ruangan selalu ada
televisi yang menghadap kursi. Benar-benar tempat yang sederhana dan juga
kosong tidak ada isinya.
“Sudah berapa lama ya, ruangan ini kosong seperti ini?”
gumamku meninggalkan ruang tengah ini. Lalu kemudian aku ke dapur yang berada
di belakang ruang tengah.
Aku membuka pintu kulkas yang berada di dapur. Isinya itu
adalah es batu, plastik kosong, dan juga tempat telur yang tidak ada telurnya.
Secara literatur, kulkas itu memang ada isinya, tapi secara perut kulkas itu
tidak memiliki sesuatu yang dapat dicerna oleh perutku ini.
Menyadari kulkas yang begini, mau tidak mau aku harus pergi
untuk belanja. Bukan karena ada niat untuk mengisi kulkas itu penuh, tapi emang
ingin makan sesuatu untuk perutku ini.
Aku lalu keluar dari rumahku ini. Mengecek kembali uang yang
aku ambil di kamar berada di sakuku ini. Aku mengunci pintu rumah dan sambil
membawanya menuju alfamart terdekat.
Setelah membeli cukup
banyak makanan di alfamart aku keluar dari ruangan dari alfmart tanpa bicara
apa-apa.
Kemudian aku menghentakkan kakiku dan berjalan di trotoar
ini.
Hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Enggak tahu
kenapa aku berpikir seperti itu, apakah karena mobil yang jarang melewati
inikah? Apakah karena jalan trotoar yang terlihat gelap inikah?
Ataukah mukaku yang beginikah yang menyebabkan hal tersebut?
“Rasanya aneh sekali. Untukku berpikir seperti tersebut ...
“ aku tertawa kecil setelah berkata itu. Sekarang aku berada diperempatan
jalan. Yang ketika diperempatan ini aku lurus aku akan menemukan rumahku yang
berada di hutan belantara tersebut.
Tapi entah kenapa, aku tidak memilih jalan lurus tersebut.
Entah kenapa aku malah memilih jalan berbelok itu.
Yang membuatku sekarang berada di sebuah padang rumput.
Sebuah padang rumput yang tidak luas, berbentuk mirip persegi yang disekitarnya
itu dikelilingi oleh pepohonan.
Memang. Memang tidak ada hal yang unik dari tempat ini
selain karena banyaknya tumbuhannya. Namun ada satu keistimewaan dari tempat
ini yang di tempat lain aku tidak bisa melakukannya.
Bulan.
Bulan yang bewarna putih itu aku bisa melihatnya dengan
jelas dan juga tenang di tempat ini. Angin malam yang berhembus, rumput-rumput
yang berserakan karena angin dan juga suasana sepinya di tempat ini ... tidak
ada alasan untukku menolak berada di sini lama.
Aku duduk di rerumputan tersebut. Kemudian aku menggapai
tanganku ke bulan nan jauh itu. Aku mencoba membayangkan kalau bulan itu bisa
aku ambil di tanganku ini.
“Tapi kenyataannya tidak bisa. Tidak mungkin sebuah bulan
bisa terambil oleh tangan biasa yang tidak memiliki arti apa-apa dalam
kehidupan ini ... “
Seandainya hal itupun terjadi, maka yang namanya kenyataan
dan fakta pasti tidak akan ada.
“Apakah ... apakah hidupku akan begini sampai aku mati?” Bulan itu tidak berkata apa-apa ketika aku
berkata itu. Seakan-akan jawabannya itu, tanpa bulan mengatakanpun aku bakal
tahu jawabannya.
Ya, bukankah memang begitu dunia ini?
Meskipun, meskipun aku punya permintaan keinginan atau juga hasrat
... pada akhirnya hal tersebut tidak bisa dikabulkan dunia ini.
Bukankah memang begitu dunia ini?
“Biasanya, kalau orang berpikir seperti itu. Pasti bakal ada
sesuatu yang terjadi kalau ini bukanlah dunia nyata. Misalnya saja petir
langsung datang kepadaku, atau enggak flashback satu panel di manga-manga ... “
Tentu saja hal itu tidak terjadi. Tapi aku enggak kaget sama
sekali.
“Yap ... aku pikir sudah cukup aku melakukan hal enggak
jelas disini. Sudah saatnya aku pulang ke rumah.”
Dan seperti itulah kisahku satu hari ini. Berakhir tanpa ada
hal yang berarti ataupun berguna bagi siapapun juga.
“Menurutku tidaklah begitu, manusia. “ pada saat aku
membalikkan badanku. Terdapat sesuatu yang melayang tidak tinggi di hadapan
diriku.
Sesuatu itu tidaklah besar ataupun tidaklah kecil. Ukuran
dia itu berbentuk seperti manusia. Tubuhnya juga sebenarnya berbentuk seperti
manusia. Entah kenapa meskipun penampilannya itu mirip manusia, aku merasakan
dia itu bukanlah manusia. Karena terdapat hal yang janggal yang membuat dia
bukanlah termasuk manusia.
Seluruh tubuhnya tertutup oleh perban. Tidak hanya tangan,
kaki dan badannya juga yang tertutup, badan, leher, bahkan telingapun tertutup
sama perban seakan-akan dia adalah mumi.
Dia juga menggunakan headset, dan headphone sekaligus. Namun
tidak menutup daun telinga belakangnya yang berisi perban itu.
Tidak hanya itu, dia juga menggunakan sebuah topeng. Sebuah
topeng setengah bagiannya hitam, setengah bagiannya putih. Dimana di bagian
putih itu terdapat mulut cemberut setengah dan mata hitam kesal , begitu juga
bagian hitam terdapat mata polos dan juga mulut tersenyum.
Tapi semua itu tidaklah begitu menunjukan kalau dia itu
berbeda dari manusia.
Karena yang paling membedakannya adalah auranya. Auranya
yang penuh dengan ketidakjelasan itulah yang membuat dia bukan manusia. Takut,
seram, misterius, perasaan itu bercampur aduk dan tidak bisa dijelaskan oleh
perkataan.
“Aku kabulkan permintaanmu manusia.” Makhluk itu berbicara
tanpa melepaskan topeng yang dipasangnya itu.
“Aku, yang bernama Netral ini. Akan mengabulkan hasratmu
yang terdalam ... wahai manusia.”
"Tapi memangnya kau pikir aku akan memberikan semuanya
begitu saja tanpa apa-apa huh!?”
“Tentu saja aku akan meminta gantinya. Ganti yang setara
ataupun lebih besar daripada yang aku berikan itu."
"Oleh karena itu. Nikmatilah dulu saja yang aku berikan
ini. Sebelum kamu tidak bisa menikmatinya lagi untuk selamanya. Huhuhu."
Pada saat itu aku sadar. Bahwa sekarang hal yang aku lalui
itu akan berbeda dari yang biasanya. Aku tahu dan aku mengerti, bahwa hal
seperti pertemanan, kesenangan, akan tidak berguna di saat kedepannya.
Karena ...
Bukankah dunia pada akhirnya begitu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar