2016/01/31/2016
Ini adalah episode permulaan untuk memulai cerita Harian ini.
Well, bagaimana Kalau kita bicara dulu tentang 2 hari yang lalu?
Pada hari kamis waktu itu entah kenapa Aku melakukan hal
biasanya Aku tidal lakukan.
I mean awalnya tidak ada yang aneh disana. Aku belajar normal
seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya saja di jam pelajaran ketiga ada pengumuman. Pengumuman
yang memberitahukan bahwa murid-murid yang berada di dalam kelas untuk
menghentikan pelajaran dan pergi ke lapangan.
Alasannya itu ternyata untuk menghadapi MEA yang baru saja
diadakan sekarang ini. Bagaimana kita sebagai murid Indonesia harus tahu
bagaimana cara menghadapi MEA tersebut.
Untuk itulah kenapa semua murid sekarang duduk diam di lapangan
ini. Agak telat dari waktu yang direncanakan dikarenakan murid kelas 3 yang di
kantin dan juga malas-malasan ke lapangan.
Aku sebagai murid kelas 3 sangat malu terhadap kelakuan itu.
Padahal mereka sudah kelas 3, sudah semakin senior, bukannya perilaku semakin
dewasa, malah lebih malas daripada murid kelas 1 yang sudah langsung berada di
lapang?
Well, inilah yang terjadi huh ketika seseorang mendapat suatu
posisi atau jabatan kali ya. Apa mungkin mereka enggak tahu hal yang namanya
disiplin dan juga memberi contoh yang baik?
Sayang aku tidak bisa mengatakan itu keras-keras kalau aku
mengatakannya bisa-bisa aku akan dimusuhi oleh satu angkatanku.
Pada akhirnya aku hidup dimana yang baik itu salah dan yang
jahat harus diidolakan.
Setelah berkumpul, guru menceritakan tentang bagaimana cara
menghadapi MEA itu. Yang sebenarnya lebih kebanyakan membahas bully yang aku
tidak tahu apa hubungannya dengan MEA. Atau jangan-jangan ada hubungannya?
Toh tapi tetap saja murid-murid kelas 3 tidak mendengarnya.
Padahal itu berisi pesan kepada kita kelas 3 untuk tidak membully adik kelas 3.
Tapi mereka tidak mengacuhkannya.
Jadi pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti jalan yang
sama dengan kelas 3 sebelumnya huh? Dengan menggunakan "kata kelas 3"
mereka bisa melakukan apa saja yang mereka suka huh?
Pada akhirnya mereka berjalan pada jalan yang salah dan bodoh
huh seperti tahun sebelumnya?
....
Well, sayang aku bukanlah seperti mereka. Karena aku adalah aku.
Razan si minoritas.
Pembahasan itupun tidak lama kemudian selesai. Ketua dari setiap
kelas dipanggil ke depan, lalu semua murid disuruh berdiri. Untuk mengucapkan
perjanjian. Perjanjian yang terdiri dari beberapa baris, yang isinya adalah
dilarang mencontek, menaati hukum yang ada dan lain sebagainya.
Sayang, aku dengar kebanyakan dari mereka bermain dengan
perjanjian itu. Atau bahkan ada yang mengeditnya karena dia tidak bisa
menaatinya.
Pada saat itu ... Pikiranku berkata
"Kenapa kalian mempermainkannya? I mean aku tahu kalian
cuman bercanda. Tapi lihatlah keadaannya! Hal itu bukanlah hal yang tidak boleh
dibercandakan tahu? Apalagi mengeditnya sesuka hati kalian?"
"Bagaimana kalian bisa menjadi dewasa nanti? Kalau hal
begini saja kalian malah menganggap itu sebagai hal kecil ... "
"Apakah kalian pikir hal yang kalian lakukan itu tidak akan
diadili di hari kiamat?"
Tapi tidak ada seorangpun yang mengerti hal itu. Mereka semua
hanya senang saja melakukan itu.
Apakah karena mereka masih muda mereka berkata itu, atau karena
mereka emang tidak peduli dengan itu.
Kalau begini terus kita akan menjadi negara bodoh dan miskin
sampai seribu tahun yang akan datangpun!!!
Kenapa kalian semua meremehkannya?
...
Jadi pada akhirnya aku tahu satu hal.
Pada akhirnya aku sendiri. Pemikiranku terlalu berbeda dengan
teman sekitarku. Membuatku berbeda dari orang lain di sekitarku.
"Jadi memang begitulah pada akhirnya dunia itu Razan."
kegelapan memberitahukanku di atas diriku. Tubuhnya gelap berbentuk seperti
bayangan boneka terubozu berambut, lalu menggunakan bayanganku sebagai tubuhnya
itu.
"Beginilah Razan Temanmu ataupun juga orang yang berada
disekitarmu Razan. Mereka tidak peduli tentang masa depan, kiamat, MEatau
apalah itu namanya."
"Yang mereka pedulikan hanyalah mereka senang. Mereka
bahagia atau mungkin paling tidak "peduli amat dengan dunia atau negara
ini selama tidak ada hubungannya denganku ini."
"Bukannya pada akhirnya sifat manusia yang sebenarnya
begitu? Sama saja ketika kita bertemankan? Bukannya kita berteman karena saling
menguntungkan satu sama lain bukan? Tidak ada pertemanan yang gratis di dunia
ini!"
"Aku juga tidak peduli dengan semua ini tentunya. Aku malah
tidak mengerti kenapa kamu tidak begitu Razan. Malah menjadi minoritas dan juga
berpikir seperti itu ... "
Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk membalas perkataannya itu.
Mungkin kegelapan tidak bisa melihat hal itu.
Tapi aku dapat melihatnya dengan jelas. Kebencian, kekesalan,
yang terpendam dari negeri Ini. Sebuah api yang tidak tahu bagaimana harus
dipadamkannya itu.
Dan itulah hal yang ditinggalkan oleh penjajah kita, jepang dan
belanda.
Setelah itu entah kenapa mukaku sedih dan aku tidak nafsu untuk
berbicara.
Meskipun pada akhirnya aku bisa senang berkat temanku itu. Tetap
saja rasa sedih ini tidak bisa hilang begitu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar