Selasa, 02 Februari 2016

Real Nikki 3

2016/02/02/2016

Sekarang aku menulis ini pada saat sedang belajar. Tentu saja menggunakan teknologi hp saat belajar itu adalah hal yang tidak terpuji tapi karena guru tidak ada ...
dan daripada enggak ada kerjaan ... Bukannya menulis ini lebih baik?

Tadi aku belajar matematika. Dan ditengah-tengah belajar matematika ini terkadang sang guru bercerita beberapa hal yang berhubungan dengan matematika.

Well, karena materi matematikanya tentang bunga(pinjaman). Maka tentu dia juga bercerita tentang hal yang berhubungan dengan bunga.

Sebenarnya agak gimana gitu sama guru yang bukannya ngajar malah cerita itu. Hanya saja ceritanya itu berguna sekali untuk kehidupan sehari-hari.

Tapi mendengarkannya membuat kesan akhir yang tidak menyenangkan. Contohnya saja tadi ada orang yang bisa menghilangkan 4 trilliun dalam satu minggu, bagaimana liciknya bank dan bodohnya korban yang termakan oleh bunga yang kelihatannya murah.

Banyak sekali yang tanpa disadari kelicikan itu banyak terjadi dan si korban yang tidak punya banyak informasi akan menderita.

Informasi itu mahal ya? Aku beruntung bisa dapat informasi itu. Kayaknya kalau tadi tidak ada, kuburanku akan cepat digali tanpa sepengetahuanku.

Good riddance.

Setelah itu, enggak para guru tidak datang mengajar. Setelah itu sih aku pulang tapi ya enggak cepet banget, hanya satu jam lebih cepet dari waktu biasa pulang.

Kepergianku selanjutnya tidak lain ke togamas, untuk membeli light novel yang aku inginkan. Judulnya kalau disundakain sih henteu ulin henteu hirup. Sengaja diginiin, soalnya kalau aku sebutin langsung malah jadi promosi dan aku enggak mau promosi gratis.

Lalu pergi ke tempat les bahasa jepang. Disana aku sempat membaca light novel itu. Meskipun agak kebacanya aneh tapi lumayanlah. Tidak sia-sia uangnya. Paling cuman tes jepangnya aja yang nilainya jeblok. Karena seharusnya tadi itu aku niatnya belajar malah enggak.

Good leadass

Hari ini juga adalah hari terakhir aku belajar bahasa jepang. Mau vakum dulu demi UN dan sbmptn tersetan. Yah apa boleh buatlah...

Dan juga level aku berbicara bahasa jepang itu is very low man. Really a disgrace to all razan in the world.

"Kayaknya kamu di ijime (bully) sama sensei terus ... " salah satu temanku berkata itu sebelum shalat. Well, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi ya entah kenapa aku mencoba untuk mengajak sensei asli jepang itu untuk masuk islam. Tapi sepertinya kelihatannya kayak aku dibulli ya?

Padahal aku ngerasa biasa aja. 

Tapi ya ... mau gimana lagi. Aku agak keras kepala kalau bicara tentang agama. Dan ya ... Aku juga harus hati - hati juga sih. Agama islam bukanlah agama yang dipaksa. Aku berdosa kalau aku melakukannya.

Sekarang aku berada di rumah. Di rumah yang aman dan juga sepi ini aku terdiam.

Lalu aku beristirahat untuk esok yang datang.

"Bagiku tidak apa-apa loh Razan untukmu sebagai orang yang enggak peka dan juga enggak bisa baca perasaan itu."

"Aku pikir tidak ada salahnya untukmu melakukan hal tersebut. Memangnya kalau satu orang ini saja kamu enggak berani bagaimana dengan orang lain? Aku rasa kamu melakukan hal itu saja sudah menjadi keberanian yang bagus untukmu."

"Aku tahu kamu baik banget Razan. Padahal kamu sendiri hatimu sudah terluka ataupun juga babak belur tapi kamu masih mengkhawatirkan orang lain. Kalau itu bukan kebaikan lalu itu apa?"

"Masalah apakah dia masuk islam atau enggak itu bukanlah urusanmu Razan. Biarkan dia memutuskannya sendiri. Karena pada akhirnya tugas kita itu hanyalah memperingati mereka saja. Itu saja."

"Nah sekarang selamat malam Razan. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan sekarang ... Namun tenang saja Razan ... "


“Aku, sang cahaya ini, akan selalu berada di sisimu.” Setelah itu cahaya itu berubah dari wujud manusia seperti kegelapan menjadi normal tanpa berbentuk sama sekali.

1 komentar:

  1. Itu kamu tahu kalau kamu baik, aku pernah merasakan kebaikan kamu, sampai skrg.
    Kalau kamu bilang kamu gak peka, kata aku sih ga gitu. Kamu sadar gak dengan kamu ngomentarin orang atau suasana yang ada di sekitar kamu, itu tuh peka banget tau nggak.

    BalasHapus